Saturday, December 31, 2011

A Day Before 2012


Aku hanya ingin bersyukur untuk hari yang sudah Ia berikan
Setiap menit, detik dan jam yang begitu berarti
Setiap nafas kehidupan yang Ia hembuskan di pagi hari
Setiap kekuatan dan berkat yang menyertai setiap saat
PenyertaanNya dalam kehidupanku baik suka maupun duka
Menjadikan semua yang kujalani begitu bermakna

Aku hanya ingin bersyukur untuk hari yang sudah Ia berikan
Untuk orang-orang yang ada dalam kehidupanku: keluarga, teman, musuh sekalipun
Ada tawa, canda, air mata, semua bercampur jadi satu
Aku merasakan kasihMu yang begitu nyata
Mengalir dalam satu cerita yang tak lekang oleh waktu
Bersama mereka aku melewati waktu dengan penuh warna

Aku hanya ingin bersyukur untuk hari yang sudah Ia berikan
Aku hanya ingin bersyukur untuk minggu yang sudah Ia berikan
Aku hanya ingin bersyukur untuk bulan yang sudah Ia berikan

31 Desember 2011

Aku hanya bisa mengingat kembali apa yang sudah Ia berikan sepanjang tahun 2011
Tentang aku, keluargaku, pekerjaanku, teman-temanku, pelayananku, hubunganku, semuanya...
Tak ada sedikitpun keraguan, karena Ia ada bersamaku, berjalan denganku,
Ia pula yang menopang aku kala aku terjatuh,
Ia juga yang mencukupkan dan mengerti segala kebutuhan dan keinginanku.

Dan kembali, aku hanya bisa mengucap syukur
Karena apa yang sudah Ia berikan sungguh luar biasa
















































































































































































































































































































































Saturday, September 24, 2011

Be Still

Manusia bukanlah produk murahan yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Justru manusia adalah ciptaan yang paling berharga, bahkan termahal yang Ia buat.


Kenapa Ia tidak menciptakan manusia sebagai produk masal yang notabene murahan? Karena Ia mau manusia terbentuk sedemikian rupa, sehingga ia menjadi kuat dan mampu melewati berbagai rintangan dan halangan hidup.


Sang Pencipta ingin manusia dapat melalui halang rintang tersebut dan naik kelas ke level yang lebih tinggi lagi.
Ia mengizinkan kita untuk melewati halang rintang serta mendapatkan terobosan yang baru di bidang yang berbeda, yang membuat manusia semakin kaya.


All we need to understand hanya
Be still and know that You are God.
Fokus pada Tuhan. Pekerjaan tanganNya bergerak dari satu kemuliaan ke kemuliaan yang lainnya. Mari letakan segala kekuatiran dan ketakutan.
Membiarkan Ia yang mengambil alih kehidupan dan berjalan dengan penolong yang telah Ia berikan.


All we have to do is finish the race, and fight in a good fight of faith. Never quit.

Thursday, August 18, 2011

Give Respect to Others

Bertiga dengan teman kantor yang senasib tidak puasa, kami meluncur ke seberang untuk makan siang. Food court lorong ITC Kuningan menjadi pilihan. Sebelum masuk area kami sempat berdiskusi singkat untuk makanan yang akan kami pilih. Kesepakatan diambil, tujuan: mie aceh. Kami naik ke lantai 4, mencari tempat dan memesan makanan.

Tak lama setelah memesan makanan, datanglah 3 orang wanita. Salah seorang dari mereka menanyakan tempat duduk yang kosong di sebelah saya, apakah boleh mereka tempati. Tanpa berpikiran apa-apa, saya mengiyakan saja agar mereka dapat duduk. Memang siy, adalah hal yang biasa apabila wanita-wanita berkumpul, akan terjadi pembicaraan-pembicaraan yang seru termasuk pergosipan, tapi kali ini hmmmm, gak banget.

3 wanita ini membicarakan tentang pengalaman mereka memiliki pembantu, tepatnya baby sitter.
Mbak Hijau (saya gak tau namanya, cuma lihat ia memakai baju hijau) mendominasi pembicaraan dengan cerita pengalamannya. Sebenarnya saya tidak begitu peduli, tapi lama-lama akhirnya jadi pasang telinga karena Mbak Hijau bercerita dengan penuh semangat sehingga mengeluarkan suara yang mirip dengan toa.

Ada beberapa hal yang saya dengar membuat saya mengernyit dan tersenyum miris di dalam hati. Ini sekelumit cerita dari hasil mencuri dengar yang jadi pemikiran saya.

Saat ketika sang majikan memergokinya nonton tv sambil membiarkan anaknya bermain. Betapa penghargaan seseorang terhadap orang lain yang begitu minim. Begitu berkuasanya sang majikan kepada pelayannya sehingga dia mungkin tidak melihat betapa sang baby sitter adalah orang yang berharga membantunya untuk menjaga anak selama ia bekerja, dan patut untuk diapresiasi atas jasanya.

Bagaimana komunikasi yang jelas dapat disampaikan ke baby sitternya sehingga tidak menimbulkan kekacauan, seperti kala baby sitternya ia berikan bahan baju untuk dijahit menjadi kemeja dan oleh sang baby sitter dibuatkan kemeja dengan model lengan yang gaya balon. Lha wong majikan tidak menyebutkan secara spesifik model baju seperti apa yang harus dibuat. Yang ini saya tersenyum simpul, ini yang benernya oon siapa yach, majikan atau baby sitter?

Akan tetapi yang mengusik saya adalah cerita tentang Mbak Hijau membelikan sepatu dengan merk dan model yang sama untuk baby sitter dan kakaknya. Dengan berdalih karena sepatunya itu enak, ia membelikan barang yang sama untuk sang kakak. Lucunya, sebagai orang yang memberikan, ia  memberikan catatan dan melarang sang baby sitter untuk menggunakan sepatu tersebut jika ada kakaknya. Dan yang terjadi, baby sitter tersebut justru menggunakan sepatu tersebut ketika berjalan dengan kakak Mbak Hijau. Alhasil si kakak tidak mau berjalan dekat-dekat dengan baby sitter adik.

Entah kenapa mendengar cerita tentang sepatu itu, tiba-tiba saya teringat tentang bagaimana seseorang menghargai dan menghormati orang lain. Salah satu cara adalah dengan memberikan sesuatu dalam bentuk benda atau fisik. Dalam benak saya, masa seorang adik tega membelikan kakaknya barang yang sama dengan pembantu? Dimana letak penghargaaan dan rasa hormat adik kepada kakak, pikir saya. Kenapa juga gak beli yang berbeda dan memberikan yang terbaik untuk sang kakak tercinta. Mungkin tidak dilihat dari jumlah atau harganya, tetapi bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik dengan tulus hati. Di sini saya terpekur dan terhenyak. Apakah saya juga sudah memberikan yang terbaik, untuk Tuhan, orangtua, saudara, kerabat, teman, pembantu, klien, orang lain? Atau saya sama dengan Mbak Hijau?

Bentuk penghargaan bukan berarti berjalan membungkuk-bungkuk atau bersikap sempurna terhadap orang-orang tertentu yang kita pandang lebih, atau memberikan sesuatu untuk mendapatkan reward balik. Akan tetapi lebih karena saya mencoba untuk memahami bahwa orang-orang yang ada di sekitar saya juga manusia. Yang perlu untuk diapresiasi baik melalui pujian, sapaan, senyuman atau benda sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan yang keluar dari hati yang tulus tanpa tendensi apa-apa. Memang siapapun orangnya apakah tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, atasan, bawahan dan lain-lain, mereka tetap harus dihargai dan dihormati. Mungkin bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya menyapa OB di kantor, mengucapkan terima kasih kepada pembantu yang sudah membereskan rumah, memberikan perpuluhan dan persembahan di gereja secara rutin atau memberikan selamat kepada teman yang dipromosi dan lain-lain.

Terlalu gerah telinga saya untuk mendengarkan lebih panjang keluh kesah yang terlalu dilebih-lebihkan menurut saya.
Kalau kata teman saya dalam  retwitannya: kayak milih channel tv yang muter sinetron...
reply saya: kalau pegang remote, udah gw ganti channelnya...
Segera setelah makanan di piring ludes, kami beranjak meninggalkan arena.

Saturday, July 30, 2011

Peace in Your Heart

17 Juli 2011 Minggu pagi, masih lekang dalam ingatan. Terbangun dengan hati riang gembira, hari itu diizinkan untuk memujiNya dalam ibadah pagi. Tidak terbersit apapun terjadi, dalam doa sesaat menjelang berangkat, hanya satu  pinta saya: Lord I want to served You with all my heart no matter what happen.

Ketika saya melihat ke jam, wah... saya harus bergegas. Berkelebat dalam pikiran rencana perjalanan, angkot dan ojek, paslah.... Ya saya memilih untuk naik angkot dari tol Jatibening, turun Halim dan menyambung dengan ojek. Setibanya di Halim, ojek langganan telah menunggu. Setelah memberitahu rute (rute biasa berbeda...), saya naik motor pak ojek dan meletakkan tas di antara saya dan pak ojek.

Perjalanan memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk tiba di lokasi. Ketika akan turun, tiba-tiba sebuah motor dari kanan saya menyalib dan seta merta mengambil tas saya. Setengah tidak percaya saya berteriak dan meminta pak ojek untuk mengejar motor tersebut. Dalam pikirian saya, astagaaa saya kena jambret... Semakin jauh ojek kami mengejar, semakin jauh motor itu dari pandangan. Sampai di satu titik pak ojek berkata: Mbak sepertinya gak akan terkejar, motor saya kalah cepat dengan motor itu (sambil mengucapkan merk). Saya minta untuk diantar pulang oleh pak ojek. Entah mengapa ditengah perjalanan, akhirnya saya berubah pikiran, saya meminta pak ojek untuk kembali mengantar ke lokasi semula, di daerah Casablanca.

Dalam perjalanan kembali ke Casablanca, saya sempat menertawakan kejadian yang baru saja terjadi dan berseloroh dengan pak ojek. Saya memang dijambret, tetapi tas yang diambil menurut saya tidak ada apa-apa yang berharga. Hp yang sudah setengah rusak yang niatnya akan ditukartambah jika gajian, dompet yang isinya kosong karena saya memang hanya membawa uang yang pas untuk ongkos dan makan, dan itu ada disaku celana Sementara sisanya adalah peralatan make up (namanya juga cewekkk... ), baju ganti, buku catatan, buku motivasi dari John Maxwell dan Alkitab.

Ketika masuk dalam ruangan dan naik lift ke lantai 12, saya menghela nafas, achhh...baru kali ini saya berjalan melenggang, hanya membawa diri tanpa apa-apa. Rasanya aneh sekali. Perjuangan saya dimulai ketika harus berdiri di depan memuji dan menyembahNya. Betapa dalam setiap pujian dan penyembahan itu benar-benar membuat saya menangis meskipun irama lagunya riang. Ya, saya berjuang membangkitkan sukacita dan damai sejahtera ditengah kelebatan-kelebatan bayangan motor yang tancap gas membawa tas saya. Bahwasannya apa yang telah saya alami Ia tetap membawa kebaikan untuk saya. Bahwa yang telah terjadi memberikan saya kesempatan untuk tetap melihat bahwa rencana Tuhan tetap baik dalam kehidupan saya meskipun saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.

Berbagai pikiran menari-nari saya  mencoba untuk melihat itu dari pandangan si penjambret, mungkin ia perlu untuk menyambung kebutuhan hidupnya, mungkin ia perlu untuk anggota keluarganya yang sakit. Perlahan-lahan dalam pikiran saya, saya mulai merelakan semua yang sudah diambil, saya memberkati orang yang mengambil, dan memaafkan tindakannya. Tetapi satu hal yang benar-benar saya dapatkan, bahwa segala sesuatu di dunia tidak ada yang kekal. Semua dapat diambil dan ditarik dari manusia. Apa yang paling kita sayang dan kita tidak rela untuk melepasnya, bisa saja diambil. Tetapi ada satu yang selalu kekal, bahwa saya tetap memiliki Tuhan yang tidak akan pernah berubah dulu, sekarang sampai selama-lamanya.

Ketika saya menyadari ini, beban yang tadinya mengganggu, sirna. Ada damai sejahtera dan sukacita yang berbeda muncul dalam menghadapi kejadian ini. Saya memang kehilangan tetapi saya percaya apa yang saya lepas itu akan kembali dan apa yang saya dapatkan, lebih berharga dari apa yang saya lepaskan. Saya mendapatkan hakekat pemilikan yang sejati, yang tak lekang oleh waktu, Sang Pencipta.... The most precious gift that I ever had...

Sunday, June 26, 2011

Seeds Becomes A Tree

Hari Jumat yang lalu, temen minta saya untuk bikin summary kotbah pendeta untuk warta jemaat. Pekerjaan yang sudah lama tidak dilakukan, tetapi saya sanggupi. So sebelum tidur, saya masih sempetin buka catatan dan membacanya kembali. Saya mulai mengatur strategi untuk menyusun kalimat-kalimatnya dalam pikiran. 
Satu hal yang sempat saya kagumi adalah kupasan dari apa yang dibagikan oleh pendeta saya itu.
Sebenarnya ceritanya sungguh sederhana. Bahkan mungkin saya sudah membacanya berulangkali. Akan tetapi pada saat dibagikan, hal itu berubah menjadi sesuatu yang baru.

Mungkin sebagian orang terutama Kristiani pernah membaca dan tahu tentang kisah biji sesawi. Ada beberapa cerita tentang biji sesawi: tentang biji sesawi yang ditaburkan di tanah, tentang biji sesawi yang mampu mencampakan gunung, dan biji sesawi yang bertumbuh menjadi pohon. Nah, pendeta saya itu bercerita tentang hal yang terakhir. Dan diblog ini saya ingin berbagi apa yang saya dapatkan dari kisah itu....

Diceritakan bahwa biji sesawi dapat tumbuh menjadi sayuran bahkan pohon sehingga menjadi tempat burung-burung tinggal. Cerita itu merefleksikan kalau Sang Empunya menitipkan sesuatu (benih) dalam setiap manusia, agar dapat digunakan sebaik-baiknya. Apabila benih yang diberikan tersebut dikembangkan, maka ia akan bertumbuh menjadi tanaman, bahkan pohon yang menghasilkan. Pohon yang menghasilkan akan menjadi tempat untuk makhluk hidup lain tinggal di sana (eh, maksudnya burung, yach...). 

Terkadang, sebagai manusia, saya kadang suka lupa, kalau sebenarnya apa yang sudah didapatkan adalah bentuk karunia dan anugerah dari Sang Empunya tadi. Misalnya Ia memberikan kita kemampuan untuk menyanyi, olahraga, merancang pakaian, menulis, memasak, menari, dan lain-lain, dan lain-lain. Pernah, gak siy, kepikiran kalau kita diberikan kemampuan, kita harus memanfaatkan dan mengembangkannya dengan baik dan berbagi dengan orang lain tentang kemampuan itu? 

Tadi sore, saya menghadiri pertemuan tentang tata cara berbusana yang tepat, yang diadakan oleh departement wanita di gereja. Yang menjadi pembicara adalah seoarng dokter, perancang busana, seorang pakar di bidan hospitality management serta event organizer. Bayangkan, betapa multi talented-nya orang tersebut, yach. Menurut saya, ia telah memanfaatkan apa yang ia miliki untuk dikembangkan secara maksimal. 
  
Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan. Beberapa sepertih fokus, tekun, rendah hati dan mau untuk menerima kritik membangun dari orang lain. Pembicara tersebut dalam sharingnya juga menyebutkan apabila ada hambatan dalam mengejar impian, pantang menyerah dan putus asa, tetapi tetap terus berjalan untuk mewujudkan impian. Mungkin jalannya berbelok-belok, atau bahkan memutar, tetap fokus pada tujuan. 

Apakah yang dilakukan pembicara tersebut dalam memanfaatkan kemampuannya? Ia berbagi dari apa yang ia miliki, untuk orang lain, berbagi pengalaman dan ilmunya kepada orang-orang yang memerlukan, dan ia bahkan meminta agar apa yang telah didapatkan dapat juga dibagikan kepada yang lain yang tidak hadir dalam acara tersebut.

Back to cerita biji sesawi. Jika diibaratkan dengan kehidupan nyata, ini yang berkelebat dalam pikiran saya belakangan ini: Sudahkah saya? 
Sudahkah saya menjadikan pusat kehidupan saya: Sang Empunya, supaya Ia dapat berkerja secara maksimal dalam kehidupan saya, sehingga memberikan pengaruh pada orang-orang di sekeliling saya? 
Sudahkah saya berbagi pengalaman dengan orang lain, tidak menggemukan badan dengan pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki sendiri?
Sudahkah saya menjadi living testimony bagi kebanyakan orang, karena pekerjaan Sang Empunya yang nota bene luar biasa dasyat dalam kehidupan saya? 
Sudahkan saya menabur benih di ladang  yang tepat dan membiarkannya tumbuh menjadi pohon dan dijadikan tempat tinggal burung?
Sudahkah saya menjadi jawaban bagi orang lain? 
Pilihan lagi-lagi tergantung pada saya...



Saturday, June 11, 2011

Situ Patok : One Day Trip to Cirebon

Dalam rangka memperingati ulang tahun ke 73, tante saya, Tante Henny, mengeluarkan ide untuk berjalan-jalan ke Cirebon.
Hmmm perjalanan yang cukup melelahkan, tetapi tak kuasa saya tampik, karena keinginan jalan-jalan keliling Indonesia mengganggu pikiran.

Karena perjalanan melintasi tol Subang dan lewat Jati Bening,  tempat saya tinggal, setelah berkoordinasi dengan sepupu, kami sepakat: saya akan dijemput di gerbang tol Jati Bening pk 04:30. Dengan tidur yang kurang, saya bertahan dan diantar ke tol setelah sepupu saya memberi informasi bus sudah berangkat. Saya menghibur diri, selama di jalan tol, bisa melanjutkan tidur kembali... Tempat duduk saya paling belakang.

Saya terbangun ketika bus masuk daerah Majalengka, karena terguncang-guncang  ke kiri dan kanan. Setelah bersepakat dengan keponakan, saya tukar duduk dengannya. Katya yang badannya lebih kurus, pindah ke belakang, bahkan ia bisa tidur terlentang...

Setelah hampir kurang lebih 5 jam, kami berhenti di pinggir sawah yang menghampar. Di belakang sawah tersebut ada rumah tinggal. Nah tempat itu akan jadi tempat persinggahan kami untuk makan siang.
Tetapi, sebelum kesana, perjalanan dilanjutkan ke Situ Patok, kira-kira sekitar 30 menit perjalanan.

Dari hasil cek ricek dengan Mbah Google, Situ Patok atau Setu Patok merupakan salah satu objek wisata Cirebon, terletak di desa Setu Patok, berjarak 6km dari kota Cirebon mengarah ke Tegal.
Lokasi dapat dijadikan tempat pemancingan dan wisata air seperti berkeliling menggunakan perahu.
Situ Patok dilatarbelakangi oleh perbukitan. Sayang lokasi ini masih belum digarap secara keseluruhan oleh pemerintah setempat, sehingga fasilitas-fasilitas yang ada masih sangat minim.
Ketika berbicara sedikit dengan orang yang menjaga, dia berkata, bahwa di dalamnya terdapat kompleks untuk flying fox, golf dan out bound. Sayang saya tidak sempat melihat kesana.
Dari Situ Patok perjalanan dilanjutkan ke kota Cirebon, tentu saja untuk membeli buah tangan seperti kerupuk udang, rangginang, gampit, terasi udang, dodol sirsak dan sirop.

Memang kampung tengah tidak dapat diajak berkompromi, perjalanan kami di Cirebon berakhir di rumah seorang kerabat. Ikan gurame goreng hasil dari kolam sendiri dan tentu saja nasi dari sawah sendiri, plus sambel kemiri menambah lahap makan siang saya.

Saturday, May 21, 2011

Mentawai Trip V: Going Home

Menembus kepekatan malam, kapal angkat sauh menuju Tanjung Priok...
Perjalanan tidak semulus pada saat pergi di mana laut begitu tenang. Kapal mulai terombang ambing, beberapa teman mulai mabuk laut. Seloroh seorang teman berkata: PekerjaanNya memang luar biasa. Di saat berangkat, kami diberikan stamina yang prima sehingga dapat memberikan yang terbaik untuk Mentawai. Di saat pulang, kami diberikan waktu untuk beristirahat, mengembalikan stamina yang telah terkuras selama kegiatan.

Di tengah-tengah lautan yang bergoyang, kami tetap memuji dan menyembah Dia. Kali ini dek teratas menjadi tempat kami. Ditemani bintang-bintang, diiringi dengan gitar kopong dan cajon, kami mengucap syukur dan berterima kasih atas segala yang sudah diberikan olehNya. Menari-nari dan bertepuk tangan, tanpa terganggu sedikitpun dengan goyangan air laut. Beautiful moment, di malam terakhir kami di KM Lawit...

Sisa perjalanan dinikmati dengan memandang keindahan  pemandangan yang sudah Tuhan beri. Dasyatnya, pada saat kita melintasi lautan luas, kita hanyalah setitik kecil dari bagian dunia yang sudah Tuhan ciptakan. Gak ada apa-apanya...

Semakin mendekati pelabuhan Tanjung Priok, di sore hari ketika  berkumpul di dek atas menikmati last sunset di Selat Sunda dan Kepulauan Seribu. Pada akhirnya, kita semua akan tiba pada tujuan akhir.
Perjalanan yang dilalui adalah proses untuk mencapai tujuan itu. Dengan dan bagaimana kita mencapainya adalah, memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Rasakan kedekatanNya di setiap nafas kehidupan dengan tetap bersyukur, bersukacita, sabar, murah hati dan mau memaafkan seperti ketika saya menikmati perjalanan dari Jakarta - Padang - Mentawai - Padang - Jakarta


I'm going home....