Thursday, August 25, 2016

Everything with a Place & a Purpose

Bunga yang mekarpun sudah ada yang mengatur, apalagi dengan hidup kita?

Monday, July 18, 2016

Giri Tirta: Our Short Gateway Weekend

Ceritanya pingin liburan yang gak terlalu jauh dari rumah.
Browsing-browsing informasi lokasi via Mbah Google nemu satu tempat masih di daerah Jabodetabek namanya Giri Tirta Resort and Spa tepatnya berlokasi di Babakan Madang Gunung Pancar Bogor. Pikir-pikir, bolehlah dijajagi...
Harga masih masuk budget, dan terlebih lagi ada hotspring private. Nom nom hmmm... Colek Tante & Oom aahhh, biar tambah asyik. Eh, mereka setuju.

Plannya, 2 hari sebelum Lebaran berangkat ke lokasi.
Reservasi via telepon dan sms dilakukan, ehhh ternyata tutup pas tanggal yang diinginkan. Tempatnya baru buka kembali tanggal 9. Ya udah lha ya, telepon setelah Lebaran, mau booking buat tanggal 9, eehhh full booked! Wooww... Ruarr biasa. Terpaksa reschedule ke minggu depan.

Bangun pagi dengan mata sepet karena kurang tidur itu sesuatu yaa. But the show must go on. Setelah tertunda selama sepekan, akhirnya jadi juga menghabiskan akhir pekan di luar Bekasi La la la la la... Rute perjalanan yang ditempuh adalah mampir ke Pondok Rangon, trus hang out sebentar di Starbucks Cibubur lanjut makan siang di Ah Poong Sentul, baru janjian sama Pak Anwar dari Giri Tirta.

Bermodalkan pengalaman akhir tahun ke Gunung Pancar, dimana kami harus melalui kondisi jalan khas pegunungan yang berliku-liku, naik turun, kami memutuskan untuk memarkir mobil di komplek Taman Viktoria, dan mengambil fasilitas antar jemput yang disediakan oleh resort. Maklum kondisi mobil sedang tidak memungkinkan untuk off road. Pak Anwar menjadi guide sekaligus supir kami.

Cuaca kurang bersahabat, karena hujan besar melanda di daerah Sentul dan sekitarnya selepas makan siang. Nyaris saja perjalanan batal, karena mobil yang akan membawa kami ke lokasi dilaporkan slip di daerah hutan pinus, Gunung Pancar. Selidik punya selidik, Pak Anwar ternyata menolong mobil yang slip... Setelah tertunda sekitar satu jam dari jadwal, akhirnya kami berangkat juga ke Giri Tirta. 

Perjalanan cukup mulus sampai ke pintu masuk Hutan Gunung Pancar. Di sepanjang jalan banyak terlihat tempat camping dan outbond dengan pemandangan pohon-pohon pinus tinggi menjulang di kiri kanan jalan. Setelah melewati hutan pinus, perjalanan kami semakin seru dan menantang. Kondisi jalanan semakin mengecil hanya muat satu mobil, berhadapan dengan jurang di sisi kiri-kanan, ditambah dengan kontur jalan berbatu-batu besar berliku serta naik turun, membuat kami tetap on. Tangan berpegang erat pokoknya, sambil dalam hati mendaraskan doa, lancarkan perjalanan kami. Acung jempol untuk Pak Anwar yang menguasai medan dan menemani kami sambil bercerita sehingga kecemasan kami berkurang. Walau demikian, di tengah perjalanan kami masih menemukan motor yang ditinggalkan begitu saja oleh pemilik dengan jok ditutup daun pisang dan rumah-rumah penduduk di antara rerimbunan pohon. Sesuatu yang langka di tengah hiruk pikuk kehidupan kota. Ternyata masih ada kehidupan yang out of nowhere, tak terimbas perkembangan kota. Masih ada kejujuran dan kepercayaan yang kental di sini, meskipun banyak pendatang aka turis lalu lalang.

Setelah kurang lebih 30 menit terlonjak-lonjak, akhirnya kami tiba di lokasi. Barang-barang diturunkan dan dibawa oleh room boy. Sesuai pesanan, kami mendapatkan 2 kamar family room, bernama Villa Galinggem berkapasitas 4 orang. Perjuangan belum usai, saudara-saudara! Kami masih harus menaiki sekitar 30an anak tangga untuk mencapai kamar...
Pfiuuhhh. Usap peluh. Baju basah keringat, nafas ngos-ngosan. Yaa, ketauan gak pernah olahraga.

Tapi, segala kelelahan dan ajrut-ajrutan diperjalanan terbayar dengan pemandangan yang kami dapatkan dari kamar. Dari kejauhan terlihat pepohonan, sawah dan gemericik air sungai, sungguh menyejukan pikiran. Sejauh mata memandang, kehijauan merajai, menyegarkan. Pisang goreng dan mixed fruit juice menemani perbincangan santai kami di teras sambil menikmati sore. Tak lama berbincang kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Yang mudaan kudu ngalah, mendapat kamar di atas hehehehe.

Malam mulai menjelang ketika kami terbangun. Kampung tengah meronta-ronta meminta bagian. Kami bergegas ke restoran dan memesan makanan. Rekomendasi dari penjaga untuk memilih nasi timbel memang top markotop. Lauknya berlimpah ruah, ada ayam goreng, ikan mas goreng, tahu, tempe, ikan peda, lalapan, sambel plus sayur asem dalam porsi besar. Wooww mantabbss!!! Makan langsung gak bersisa... Dengan harga Rp 42.000, gak rugi lha... 

Trus, what's next?? Pastinya berendem di kolam air panas, dunggss. Sekilas ngobrol dengan penjaga, berendem yang enak disarankan sebaiknya sebelum tidur atau setelah bangun pagi... Tanpa ragu, namanya juga kurang tidur dan istirahat, kami sepakat setelah makan malam langsung capcus ke kolam untuk berendam, dengan tekad supaya tidur jadi lebih nyenyak. 

Tersedia beberapa bilik kolam pemandian, tinggal cari aja yang kosong. Masing-masing kolam bisa menampung 4-6orang, dilengkapi saung untuk bersantai dan lemari penyimpan pakaian. Tersedia juga shower untuk bilas, dengan sabun dan shampoonya, sementara di counter disediakan handuk. Kalau mau pesan makanan dari restoran, bisa diantarkan ke saung. Full service pokoknya. Perlu digarisbawahi kalau semua kolam dikemas semi terbuka, dengan desain yang menyatu dengan alam. Hasilnya, kami berendam di kolam di antara pepohonan, beratapkan langit, ditemani sinar rembulan. Yang bikin tambah enaknya lagi, air panas yang dikeluarkan merupakan sumber air mineral langsung dari Gunung Pancar yang bermanfaat untuk rematik dan pegal-pegal. Passs maknyosnya.

Berhubung air kolam cukup panas, perlu tahap-tahap penyesuaian sama badan. Pertama, celup kaki dulu, setelah itu baru nyemplung seluruh badan.Hmmmm enaakk banget. Apalagi sambil menyandarkan kepala dipinggir kolam, meluruskan kaki dalam air dan membiarkan tubuh terendam air sampai batas leher, baru terasa otot-otot yang tegang dari kaki sampai leher seperti dipijat dan mulai rileks. Sayangnya fasilitas spa sudah tidak berfungsi lagi. Jika dilanjutkan dengan full body massage, double kenikmatan pastinya. Setelah puas berendam, kami kembali ke kamar dan bersiap tidur.

Apadaya, karena sesuatu hal, pagi-pagi buta harus sudah cek out dari Giri Tirta. Meskipun demikian, pagi kami dihiasi dengan semangat baru dan tubuh segar, tentunya, setelah mendapatkan tidur yang berkualitas. Efek berendam, niiyyyy... Setelah sarapan nasi goreng dan minum  juice jeruk, time to go back to J town... Dalam hati berjanji, next time harus diarrange lagi dengan lebih baik, ajak lebih banyak orang dan tentunya set waktu lebih lama. Yang pasti, weekend ke Giri Tirta ini betul-betul great escape untuk short refreshing meskipun masih ada tempat yang belum dikunjungi, seperti Kawah Merah. Istirahat jadi lebih maksimal soalnya sinyal telepon dan televisi minim di sini. Yang pasti jadi punya quality time juga dengan orang-orang terkasih.

Oh ya, satu hal yang saya dapatkan dari perjalanan ini, bahwa untuk mencapai kebahagiaan diperlukan proses yang panjang namun pasti. Sama seperti proses untuk sampai ke Giri Tirta ini. Penuh perjuangan, tetapi indah pada akhirnya... 

Info detail tentang Giri Tirta cekidot www.giritirtaresort.com 

Saturday, July 9, 2016

Saturdate at Kota Tua

Udah lama gak corat-coret diblog ini. Rasanya gatel pingin nulis, apa daya tangan gak mampu lantaran otak lagi mandeg. Setelah berbulan-bulan, kali ini, sekelumit cerita jalan-jalan dalkot. Yach, namanya juga liburan jaga kandang...

Setelah tertunda beberapa hari, akhirnya kesampaian juga pergi ke Kota Tua naik KRL. Maklum stasiun asal cuman tinggal ngesot hehehehe. Berangkat setelah makan siang sekitar pk 13:00 dengan asumsi kereta kosong, salah banget sodara-sodara. Ini arus mudik dan liburan anak sekolah, so mau gak mau harus ke stasiun Bekasi dulu, dan teutep full hehehhe. Bekasi-Kota berdiri? Enjoy ajaah...

And the journey begin ketika KRLmulai bergerak dari stasiun Bekasi menuju stasiun Jakarta Kota pk 13:30.

Kami tiba di Stasiun Jakarta Kota pk 15:00, setelah melewati underground connector dengan petunjuk informasi cukup jelas, sampailah kita di Museum Bank Indonesia. Loket tiket ada dua bagian, umum dan pelajar. Kalau punya kartu pelajar/mahasiswa, bisa masuk gratis. Luar biasanya,loket cukup ramai dengan pengunjung. Rogoh kocek Rp5000 per orang, masuklah kami ke dalam. Oh iya, sebelum masuk, semua bentuk tas harus dititipkan di tempat penitipan barang, hanya diperbolehkan membawa dompet dan hp. Sebagai tanda, diberikan tag bernomor yang dapat ditukarkan kembali setelah selesai menjelajah museum. Salut untuk petugas yang tegas dengan logat khasnya membuat pengunjung tidak mampu menolak dan mengikuti peraturan sambil tersenyum simpul.

Cukup terkesan dengan museum ini. Meskipun berada di gedung tua, dirawat dan dikelola dengan baik. Informasi disampaikan menggunakan teknologi yang cukup mutahir. Terbukti dengan adanya screen-screen  yang menceritakan sejarah perbankan Indonesia, ruang teater dan beberapa diorama, ditunjang dengan penerangan yang cukup layaknya museum di luar negeri. Hmmm, mungkin karena disponsori oleh salah satu bank terkemuka di Indonesia, jadi benar-benar diperhatikan sebagai bentuk warisan budaya Indonesia. Karena waktu tutup museum ini pk 16:00, kami agak bergegas menuntaskan kunjungan di lokasi ini dan beralih ke lokasi selanjutnya.

Berjalan sekitar 200m, tibalah kami di Kota Tua, dimana ada beberapa museum seperti Museum Fatahillah, Wayang dan Keramik mengelilingi lokasi. Kali terakhir saya berkunjung, kendaraan masih bisa parkir di dekat lokasi. Sekarang, semua akses ke Kota Tua hanya dapat di tempuh dengan berjalan kaki. 

Kondisi jalanan padat manusia dan pedagang kaki lima. Mention it: mulai dari baju, sepatu, tas, gelang, tongsis, tukang ramal, tukang ngamen, tukang jualan kerak telor, es selendang mayang, es potong, dll ini memenuhi jalan masuk dari arah Museum Bank Indonesia dan ini berlanjut sampai tkp. Yang ada, belok kiri, grakkk... Masuk Museum Wayang. Kembali merogoh kocek Rp 5000 per orang, petualangan perwayangan dimulai...

Kesan bangunan lama sangat terasa di Museum Wayang. Bau khas ruangan tertutup dan agak suram. Selain itu, banyak display kosong bahkan ada kaca yang bolong. Padahal antusiasme pengunjung untuk masuk cukup banyak.Terdapat berbagai jenis wayang baik kulit maupun golek. Menariknya, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri tersendiri untuk wayang. Salah satunya display wayang Gatotkaca. Selain itu, terdapat wayang-wayang pemberian dari negara-negara lain seperti Malaysia, Kamboja, India, Cina, Rusia, Prancis dan Amerika.

Tujuan selanjutnya, Museum Fatahilah. Apa daya, sang pintu merah sudah tertutup hanya untuk pemegang tiket. Kami bergeser dan berencana untuk masuk ke museum Keramik yang berakhir pada kegagalan, karena petugas menginformasikan dengan luas 8000m2 dan terdiri dari dua lantai tidak cukup hanya dengan 10 menit. Yo wess putar haluan jalan-jalan keliling lapangan aja. 

Dari dua museum yang dikunjungi, ternyata animo orang Indonesia terhadap museum sudah mulai meningkat, terutama untuk selfie dan wefie hehehhe, ketimbang membaca cerita sejarah, termasuk saya wkwkwkww. Tinggal cari spot menarik, pake tongsis atau timer, jepret. 

Lelah berjalan, kami mendaratkan pantat di Cafe Batavia, restoran sekaligus bar menyajikan makanan internasional dan lokal. Interior cafe dibuat sedemikian rupa mengesankan restoran di zaman kolonial perpaduan budaya Betawi, Cina dan Belanda dengan alunan musik oldis dari negeri kincir angin.

Rogohan kocek kali ini agak dalam, karena variasi harga mulai dari 30ribuan - 1jutaan. Tentu saja dimulai dengan minuman pembuka, segelas mixed fruit dan bir pletok menuntaskan dahaga. Dilanjutkan dengan main course nasi meneer, nasi putih  terdiri dari oseng tempe, rendang, urap, telur balado dan sambal mengganjal perut dan mengembalikan energi yang terkuras. Ditutup dengan rekomendasi ibu pemilik sambil berujar, biar datang mampir lagi kesini, 3 scoop homemade es krim raspberry, pistachio dan guava dengan whip krim dan topping waffle serta buah cherry, apel dan jeruk serta di dasarnya diberikan serutan melon, Batavia Orgy, supeerrrrrr... Memberikan sensasi rasa nano-nano yang nyess dalam mulut, dan masih terbawa bahkan ketika sampai di rumah.

Kampung tengah telah terisi, hatipun senang. Saatnya berkemas pulang. Malam menjelang ketika kami melintas di tengah lapangan berbaur dengan pengunjung yang menikmati malam tak berbintang. Entah hanya duduk-duduk menggelar tikar, bermain dengan sepeda sewaan, berfoto dengan street performer yang menyerupai prajurit, pendekar, noni belanda bahkan hantu atau sekedar bersenda gurau, bercengkrama dengan teman, sanak saudara, kakak, adik, anak, semua tumpah ruah menikmati liburan. 

Langkah terayun, kami pulang. Meninggalkan delman-delman dan boneka-boneka karakter, dengan satu tekad, we'll be bacckkk.. Next time kudu berangkat lebih pagi, soalnya masih ada museum yang belum kami kunjungi, dan tentunya mencicipi makanan khas yang tersedia di sekitar lokasi. 

Ketika kami tiba kembali di rumah pk 21:00, meskipun kaki lelah, hati sungguh senang. Kebahagiaan itu pilihan, bukan perasaan. Bukan seberapa jauh atau mahalnya perjalanan, tapi meluangkan waktu dengan orang-orang terkasih, itu adalah momen yang tak tergantikan.


Tuesday, June 14, 2016

Saturday, October 17, 2015

Lesson to Learn: Story of The Great Warrior

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa hampir dua dasawarsa, ya sudah hampir dua dasawarsa...
Saya teringat ketika itu saya yang kuliah di luar kota sedang berlibur di Bekasi. Kami sedang bercengkrama di ruang keluarga, tiba-tiba mama mengeluh gatal di daerah payudaranya. Ketika diperhatikan, seperti digigit serangga, memerah dan gatal sekali. Waktu itu, karena dikira digigit serangga, mama hanya mengoleskan minyak tawon di lokasi gatal. Kecurigaan bertambah, ketika keesokan harinya gatal tidak mereda. Akhirnya mama berkonsultasi ke dokter dan disarankan untuk mamografi. Keputusannya diambil 3 hari kemudian dan dilanjutkan dengan konsultasi ke dokter internis. Karena saya masih ada kewajiban menyelesaikan beberapa mata kuliah, saya putuskan untuk kembali menyelesaikan kuliah sambil menunggu kabar selanjutnya dari mama.

Seperti petir di siang bolong ketika menerima telepon dan diminta pulang segera ke Bekasi. Bad news, mama divonis terkena kanker payudara. What? KANKER? Sering saya mendengarnya, tapi saya tidak menyangka kalau ini akan menimpa seseorang yang sangat saya kasihi, mama saya. Tidak tanggung-tanggung stadium 3b...

Singkat cerita, keputusan diambil, perawatan akan dilakukan di Jakarta. Sayangnya karena mama mengidap diabetes, operasi yang dilakukan hanya bisa mengangkat sebagian, tidak mengangkat tuntas semua payudaranya.

Setelah itu, proses dilanjutkan dengan kemoterapi. Sebelumnya mama rajin mencari informasi seperti apa kemo itu. Dari informasi yang diperoleh, akan muncul keluhan-keluhan seperti mual, muntah-muntah, bibir kering dan rambut rontok dalam jumlah banyak. Akan tetapi, di tahun itu keluar obat kemo baru yaitu taxotere, yang katanya memiliki sedikit efek samping, sehingga mama hanya mengalami kerontokan rambut tanpa mengalami mual atau muntah.

Sampai pada tahap akhir pengobatan yaitu radiasi sekitar 25-30 sesi. Ia rela tubuhnya ditandai dan kulit putihnya menghitam karena radiasi. Wanita mana yang gak sedih,ya? Tapi, mama saya menghadapinya dengan senyum...

Saya salut dengan perjuangan mama melawan kanker. You are a GREAT WARRIOR, Mom!
Keinginan untuk sembuh tidak pernah berhenti. Tetap semangat, pantang menyerah dan tidak pernah mengeluh. Pembawaannya yang ceria membuat orang tidak menyangka ia mengidap penyakit yang kronis.
Ketika rambutnya yang banyak rontok, mama tanpa ragu memotong rambutnya sampai habis. Kata mama, ahhh kan nanti tumbuh lagi.
Sebagai gantinya, ia memiliki wig dan topi- topi yang modis untuk dikenakan.

Membaca sepenggal kisah Indah melalui Facebook dan melihat update perjalanannya sebagai survivor kanker, mengingatkan saya pada ibunda terkasih... Terlebih melihat foto-foto update mu after kemo, Ndah...

Dua minggu lalu saya menerima kabar seorang teman dekat terkena kanker darah, berbagai perasaan kembali berkecamuk. Seperti ada bel yang berbunyi dalam pikiran saya, seolah mengajak saya kembali memaknai sekolah hidup, belajar dari kisah mama dan kisah kamu...

Teng Teng Teng Teng

Bel Pertama
Menghargai tubuh yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta, yang dibuat begitu sempurna tanpa cacat dan punya tujuan khusus.
Sayangnya kita suka gak peduli menjaga tubuh. Asupan makanan tidak seimbang, kurang olahraga dan terlebih stres bisa memicu perkembangan sel-sel abnormal dalam tubuh muncul.

Switch into:
Love your bodies
Take a rest
Always have me time

Bel Kedua
Memiliki hati yang selalu bersyukur dan gembira.
Ada pepatah mengatakan hati yang gembira adalah obat dan semangat yang patah mengeringkan tulang. Tidaklah mudah menjaga hati untuk tetap selalu waspada, sehingga ia tidak mudah untuk terkontaminasi dan berhenti mengalirkan air kehidupan karena sikap kita dalam memandang kehidupan, cenderung pesimis dan apatis.

Switch into
Don't worry be happy.
See something out of the box in a good way.
Be more proactive rather than reactive

Bel Ketiga

Have a Warrior mind set

Punya jiwa seperti pejuang, yang tidak pernah menyerah sampai titik darah penghabisan. Berani menghadapi tantangan yang menghadang, mengalahkan rasa takut yang muncul dan menjadi pemenang

Switch into
Never give up
Be strong
Be brave

Thank you for sharing your life, Mom

Thank you for sharing your journey, Indah

I open my eyes wide to enjoy this amazing life...

In Loving Memory beloved mother

Judith Henriette Sumarmi Winter Syafril

25 April 2000 - 25 April 2015