Satu hari menjelang tahun 2011. Kembali merefleksikan diri atas pencapaian-pencapaian serta kegagalan-kegagalan yang terjadi sejak awal dibukanya tahun 2010.
Kesuksesan dan kegagalan adalah suatu proses yang saya harus lewati, pembelajaran yang membawa pada suatu tingkatan yang lebih lagi. Ibaratnya seorang anak SD saya berada di kelas 1, selama satu tahun belajar, dan pada akhir tahun semua dievaluasi dan saya naik kelas.
Ditingkatan yang berbeda itu saya kembali mengalami pembentukan karakter, dengan kisah yang berbeda dengan sebelumnya. Lagi-lagi saya kembali belajar. Tidak ada kamus terlambat dan berhenti untuk belajar.
Mempersiapkan diri untuk menyambut tahun baru 2011 yang sudah di depan mata. Belajar dari kesuksesan dan kegagalan tahun 2010. Seperti dipindahkan ke bagian lain dalam bekerja, putus cinta, punya teman hang out baru, klub dan komunitas asyik, adik dan teman yang diubahkan, kematian oma. Ini hanya segelintir kecil. Apapun yang saya lewati baik atau buruk keadaannya, tetap satu anugerah yang disyukuri, karena saya yakin segala sesuatu yang terjadi tidak ada yang kebetulan, tetapi adalah bagian dari rancanganNya yang luar biasa dalam kehidupan saya.
Tinggal bagaimana saya melihatnya, apakah saya melihat suatu kesuksesan sebagai tempat untuk mengangkat muka saya lebih tinggi lagi, atau justru semakin rendah. Atau melihat kegagalan sebagai suatu keterpurukan bukan awal dari kesuksesan baru yang akan saya raih.
Saat saya mengharapkan satu pintu terbuka, kelihatannya seperti tertutup. Akan tetapi meski terlihat tertutup, tetap ada jalan yang terbuka. Bukan pintu mungkin, tetapi jendela. Who knows... Saya tetap selalu perlu memperbaharui kacamata saya agar dapat melihat dengan jelas. Kacamata hati dan iman, untuk percaya pada hal-hal yang tidak saya lihat langsung di depan mata. Perlu kesabaran dan keteguhan extra untuk itu semua.
Banyak hal yang telah dilalui, yang diingat atau bahkan terlupakan. Semua bercampur menjadi satu membentuk satu putaran film dalam benak saya. Ketika hari ini berakhir, saya menutup satu lembar kehidupan kembali, menyongsong satu lembar yang baru untuk digoreskan dan diwarnai.
Hari ini saya duduk, mencoba melihat kebelakang apa yang sudah terjadi.
Pinta saya, agar Ia selalu mau mengajarkan saya untuk menghitung hari sedemikian supaya saya memperoleh hati yang bijaksana. Mempunyai pandangan yang baru dalam melihat segala sesuatu. Apapun itu tetap indah pada waktuNya dan membiarkan segala sesuatu seturut kehendakNya.
Psssttt bukan duduk diam menanti, yach. Bekerja memanfaatkan potensi diri, tetap berinteraksi dengan orang lain dan tentu saja menerima diri sebagai sesuatu yang berharga.
Hidup adalah suatu perjalanan, nikmati setiap perjalanan dengan sukacita dan bersyukur membuat hidup lebih berarti.
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
Thursday, December 30, 2010
Thursday, December 9, 2010
Sukabumi Trip Part II
Dibangunkan dengan cuaca pagi yang sejuk dan suara kicauan burung, tak lama kami bersiap-siap untuk sarapan pagi dan rafting. Sepiring nasi goreng dengan telor ceplok mengisi sarapan pagi plus segelas teh manis hangat. Tak lama kami dikumpulkan di lapangan untuk warming up dan pembagian kelompok. Hmmm it’s show timeeee!!!
Dari lokasi penginapan kami sudah diperlengkapi dengan helm, pelampung dan dayung. Untuk sampai di Sungai Citarik, kami masih harus naik pick up melewati rumah-rumah penduduk, sawah dan jalanan yang curam sekitar 15 menit. Sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan saya menunggu giliran perahu diletakan dialiran sungai.
Karena belum pernah ikut rafting sebelumnya, saya didudukan ditengah. Instruksi dari instruktur, Pak Ma’mun saya dengarkan dengan seksama. Diperlukan konsentrasi serta kerjasama antar anggota dalam perahu untuk menghindari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu diinformasikan juga tentang langkah keamanan berarung jeram.
Matahari bersinar agak malu-malu. Salah satu keuntungan bagi saya, karena paling kurang kulit gak gosong-gosong amat hi hi hi. Debit air yang cukup sekitar 70 membuat perjalanan perahu cukup smooth, tidak mudah kandas karena batu-batu. Jarak tempuh 9km dengan durasi 2 jam serta melewati 21 stopper. Masing-masing stopper memiliki nama yang unik. Beberapa yang berhasil saya ingat adalah Praying, Zig-zag, dan TVRI. Pemandangan alam yang dilewati begitu menakjubkan. Rerimbunan pohon-pohon di kiri kanan aliran sungai, membuat saya tak putus-putusnya memuji kebesaran Sang Pencipta.
Pak Ma’mun mengatur dengan serius sekaligus santai. Sekali-kali peserta disiramnya dengan air :P. Pergerakan perahu tergantung pada kerjasama antar anggota dan konsentrasi mendengarkan instruksi. Laju perahu berubah-ubah kadang mundur, kadang maju, kadang terombang-ambing tak jarang sedikit meloncat-loncat bahkan tiba-tiba tenang. Di salah satu stopper konsentrasi salah satu anggota melemah, dan tiba-tiba saja ia terlempar dari perahu. Belajar dari kondisi tersebut, kami tetap fokus pada instruksi dan tentu saja kembali menikmati perjalanan.
Tidak terasa 21 stopper telah dilalui, rafting diakhiri dengan meminum air kelapa langsung dari batoknya, segarrrrnyaaa.
Selesai rafting gerimis mengundang (kayak lagu,yaaa…) kami kembali ke penginapan, ada permainan paint ball menunggu. Sambil berjalan ke arena paintball, pisang goreng sedikit mengganjal perut.. Untuk sampai di arena, saya melewati jembatan gantung yang melewatinya harus agak antri dan satu per satu. Setibanya dilokasi, kembali kami dibagi kelompok dan mendapatkan briefing singkat tentang cara bermain.
Oh ya, sekedar informasi, paint ball adalah permainan perang-perangan dengan menggunakan peluru dari gelatin, sehingga jika tertembak akan menimbulkan bekas warna pada baju. Setting permainan diatur sedemikian rupa seperti berada di medan perang. Para pemain dilengkapi dengan helm, seragam, senjata dan peluru. Setelah briefing singkat dan memakai seragam serta peralatan, kami langsung memasuki arena. Ada kejadian culun yang saya alami, ternyata lebih enak menjadi penonton dibandingkan ikut bermain.
Sepanjang permainan, saya tidak berani beranjak sedikitpun dari balik batu. Beraninya jadi endog saja, karena sedikit bergerak, peluru lawan langsung berdesing-desing. Akhirnya saya hanya berani menembak setelah melihat ada musuh di depan teman saya, setelah itu, terpaksa mundur karena tertembak, he he he.
Kami kembali ke penginapan untuk membersihkan badan dan makan siang setelah permainan paintball selesai. Makan siang disajikan secara prasmanan khas Sunda. Tersedia juga es cincau hijau yang menyegarkan sebagai penutup. Setelah makan siang, kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Sempat mampir di resto Ayam Bakar untuk bersantap sore. Es lilin home made buatan Nyonya Rumah yummy, meskipun sempat salah makan. Niatnya durian, tetapi dapatnya nangka. Warnanya sama berbeda rasa, ternyata. Pengalaman seru yang membekas.
Dari lokasi penginapan kami sudah diperlengkapi dengan helm, pelampung dan dayung. Untuk sampai di Sungai Citarik, kami masih harus naik pick up melewati rumah-rumah penduduk, sawah dan jalanan yang curam sekitar 15 menit. Sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan saya menunggu giliran perahu diletakan dialiran sungai.
Karena belum pernah ikut rafting sebelumnya, saya didudukan ditengah. Instruksi dari instruktur, Pak Ma’mun saya dengarkan dengan seksama. Diperlukan konsentrasi serta kerjasama antar anggota dalam perahu untuk menghindari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu diinformasikan juga tentang langkah keamanan berarung jeram.
Matahari bersinar agak malu-malu. Salah satu keuntungan bagi saya, karena paling kurang kulit gak gosong-gosong amat hi hi hi. Debit air yang cukup sekitar 70 membuat perjalanan perahu cukup smooth, tidak mudah kandas karena batu-batu. Jarak tempuh 9km dengan durasi 2 jam serta melewati 21 stopper. Masing-masing stopper memiliki nama yang unik. Beberapa yang berhasil saya ingat adalah Praying, Zig-zag, dan TVRI. Pemandangan alam yang dilewati begitu menakjubkan. Rerimbunan pohon-pohon di kiri kanan aliran sungai, membuat saya tak putus-putusnya memuji kebesaran Sang Pencipta.
Pak Ma’mun mengatur dengan serius sekaligus santai. Sekali-kali peserta disiramnya dengan air :P. Pergerakan perahu tergantung pada kerjasama antar anggota dan konsentrasi mendengarkan instruksi. Laju perahu berubah-ubah kadang mundur, kadang maju, kadang terombang-ambing tak jarang sedikit meloncat-loncat bahkan tiba-tiba tenang. Di salah satu stopper konsentrasi salah satu anggota melemah, dan tiba-tiba saja ia terlempar dari perahu. Belajar dari kondisi tersebut, kami tetap fokus pada instruksi dan tentu saja kembali menikmati perjalanan.
Tidak terasa 21 stopper telah dilalui, rafting diakhiri dengan meminum air kelapa langsung dari batoknya, segarrrrnyaaa.
Selesai rafting gerimis mengundang (kayak lagu,yaaa…) kami kembali ke penginapan, ada permainan paint ball menunggu. Sambil berjalan ke arena paintball, pisang goreng sedikit mengganjal perut.. Untuk sampai di arena, saya melewati jembatan gantung yang melewatinya harus agak antri dan satu per satu. Setibanya dilokasi, kembali kami dibagi kelompok dan mendapatkan briefing singkat tentang cara bermain.
Oh ya, sekedar informasi, paint ball adalah permainan perang-perangan dengan menggunakan peluru dari gelatin, sehingga jika tertembak akan menimbulkan bekas warna pada baju. Setting permainan diatur sedemikian rupa seperti berada di medan perang. Para pemain dilengkapi dengan helm, seragam, senjata dan peluru. Setelah briefing singkat dan memakai seragam serta peralatan, kami langsung memasuki arena. Ada kejadian culun yang saya alami, ternyata lebih enak menjadi penonton dibandingkan ikut bermain.
Sepanjang permainan, saya tidak berani beranjak sedikitpun dari balik batu. Beraninya jadi endog saja, karena sedikit bergerak, peluru lawan langsung berdesing-desing. Akhirnya saya hanya berani menembak setelah melihat ada musuh di depan teman saya, setelah itu, terpaksa mundur karena tertembak, he he he.
Kami kembali ke penginapan untuk membersihkan badan dan makan siang setelah permainan paintball selesai. Makan siang disajikan secara prasmanan khas Sunda. Tersedia juga es cincau hijau yang menyegarkan sebagai penutup. Setelah makan siang, kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Sempat mampir di resto Ayam Bakar untuk bersantap sore. Es lilin home made buatan Nyonya Rumah yummy, meskipun sempat salah makan. Niatnya durian, tetapi dapatnya nangka. Warnanya sama berbeda rasa, ternyata. Pengalaman seru yang membekas.
Monday, November 29, 2010
Sukabumi Trip Part I
Arung jeram, salah satu kegiatan yang ingin saya ikuti sejak dulu. Sehingga ketika ada ajakan untuk berarung jeram di Sukabumi, tanpa berpikir dua kali saya langsung mengiyakan.
Bus membawa saya ke Sukabumi bersama sekitar 50an teman pk 19:30 dari daerah Mega Kuningan. Pengalaman pertama berarung jeram dan paintball, exciting sekaligus deg-degan campur jadi satu. Semoga pada saat tiba di Sukabumi cuaca cukup bersahabat, sehingga aktivitas tetap dapat dilakukan.
Pk 21:30 bus merapat di daerah Rancamaya, Ayam Bakar Pak Karim menjadi guilty pleasure sebelum sampai di tempat tujuan. Ayam bakarnya yang lembut menggugah selera. Hanya saja karena hari sudah malam, pelayanan untuk memesan minuman memerlukan kesabaran tersendiri. Salah seorang teman mengalaminya ketika memesan segelas jeruk panas. Alhasil, cancel pesanan…
Bus membawa saya ke Sukabumi bersama sekitar 50an teman pk 19:30 dari daerah Mega Kuningan. Pengalaman pertama berarung jeram dan paintball, exciting sekaligus deg-degan campur jadi satu. Semoga pada saat tiba di Sukabumi cuaca cukup bersahabat, sehingga aktivitas tetap dapat dilakukan.
Pk 21:30 bus merapat di daerah Rancamaya, Ayam Bakar Pak Karim menjadi guilty pleasure sebelum sampai di tempat tujuan. Ayam bakarnya yang lembut menggugah selera. Hanya saja karena hari sudah malam, pelayanan untuk memesan minuman memerlukan kesabaran tersendiri. Salah seorang teman mengalaminya ketika memesan segelas jeruk panas. Alhasil, cancel pesanan…
Malam sudah cukup larut ketika kami beranjak dari Rancamanya menuju Sukabumi.
Diperlukan sekitar 2 jam perjalanan untuk tiba dilokasi Caldera Resort Sukabumi
Jalanan yang cukup curam, berliku-liku, gelap serta gerimis membangunkan saya dari tidur. Sekitar pk 01:00 kami tiba dilokasi. Welcome drink dan BBQ tidak tersentuh sedikitpun oleh saya. Badan yang penat mengantar saya untuk segera beristirahat, setelah briefing singkat.
Saya beserta dengan rekan-rekan wanita tidur dalam satu ruangan besar . Tempat kami beristirahat berbentuk rumah Lombok, semi terbuka dengan dua lantai dan dua kamar mandi. Berdesign interior natural, rumah dibangun dari kayu beratapkan jerami. Jalan masuk setiap rumah dibuat dari batu-batu besar. Ruangan luas dua lantai tersebut diisi dengan kasur-kasur yang dilengkapi dengan selimut dengan penerangan yang cukup. Design kamar mandi dan wastafel cukup unik menggunakan bambu sebagai keran dan pancuran, serta gentong dan batok kelapa sebagai bak dan gayungnya.
Tak sabar menunggu esok pagi
Tunggu ceritanya, yach…
Have to go to sleep right now, oooaahhhmmm, zzzzz
Friday, November 19, 2010
High Tea @ Parlour
High Tea dengan secangkir Dilmah peppermint tea, plain pancake with butter and maple syrup, serta fruit salad dengan taburan kacang almond, perfecto! Sebagai pengganti gula pada teh, bisa juga dituangkan maple syrup.
Lokasi : Pancake Parlour Oakwood Kuningan
Dompet Keluar:
Fruit Salad : Rp 26.000
Pancake : Rp18.000
Peppermint Tea : Rp15.000
Monday, November 15, 2010
Cerita Tentang Handphone
Hampir sebagian besar penduduk ibukota saat ini sudah melek dengan teknologi telekomunikasi, yang bernama handphone. Dari yang model sederhana, sampai yang njlimet, atau dari yang murah meriah sampai mahalnya gak nahan. Bukan hal yang tidak mungkin, jika saat ini tukang sayurpun menggunakan handphone sebagai alat komunikasi.
Secara awam, handphone sendiri terdiri dari body handphone, baterai, charger dan kartu sim..Agar dapat digunakan maka handphone harus sudah full charge baterai dan tentu saja memiliki kartu sim yang aktif dan ada pulsanya. He he he lebay, yach…
Nah, untuk dapat berkomunikasi, sebuah handphone juga harus didukung dengan kondisi sinyal yang baik sehingga suara atau pesan yang disampaikan dapat diterima tanpa kendala. Kelancaran komunikasi akan sangat tergantung dengan jangkauan sinyal dari provider. Kalau yang ini, bukan saya yang nentuin, tergantung pilihan pembaca :)
Dalam perjalanan menuju ke kantor, sedikit terganggu (kebiasaan tidur di mobil, niy) dengan seorang ibu yang tak lepas on-line dari handphonenya. Saya sempat berpikir, betah banget si ibu selama perjalanan sekitar 1.5 jam tak putus berbicara. Dari A,B,C, dan seterusnya dan seterusnya. Ach mungkin si ibu sedang menghabiskan waktu dalam kendaraan dan mengusir kesepiannya, sutralah…
Tetapi tiba-tiba saya teringat betapa pentingnya handphone saat ini dalam kehidupan. Jika diibaratkan dengan pacar atau suami, fungsinya akan sama pentingnya. Melalui benda yang kecilnya tidak lebih dari genggaman tangan orang dewasa, dunia dapat terhubung. Bahkan bagi sebagian orang, jika handphone tertinggal, lebih baik pulang kembali untuk mengambil handphone daripada hidup tanpanya.
Sebagai manusia, saya tidak hidup seorang diri. Saya memerlukan orang lain untuk menyatakan diri dan berkomunikasi dengan mereka. Jika diibaratkan dengan handphone, maka keypad dan speaker adalah alat saya untuk berkomunikasi dengan sesama, Sementara supaya agar tetap tunning, saya perlu menjaga sinyal saya dengan baik dengan tidak hanya menjaga kualitas suara tetapi pada sesuatu yang tidak terlihat, tetapi ada, yaitu Sang Pencipta. Bukankah hubungan baik akan tercipta jika ada koneksi yang juga baik?
Bagaimana caranya supaya tetap baik? Selain menjaga sinyal, ya juga harus di charge dan reload. Dalam artian diisi dengan sesuatu yang baik, seperti membaca kitab suci, beribadah atau membaca buku tentang motivasi atau sesuatu yang inspiratif misalnya. Serta direload dengan siraman rohani dari pendeta, pastor, ustad atau seorang motivator. Oh iya, buat yang isi ulang jangan kelupaan dibeli pulsa, dan yang berlangganan bulanan, jangan lupa dibayar, supaya tidak terblokir Means, sesuatu yang positif dan baik tersebut harus secara rutin dilakukan, supaya tetap bisa terhubung, gak ke blok atau tulalit. Kalau koneksi tersebut tetap terjaga, semoga hubungan serta komunikasi yang terjalin tetap selalu lancar jaya.
Be positive to be a better you, and stay connect
Secara awam, handphone sendiri terdiri dari body handphone, baterai, charger dan kartu sim..Agar dapat digunakan maka handphone harus sudah full charge baterai dan tentu saja memiliki kartu sim yang aktif dan ada pulsanya. He he he lebay, yach…
Nah, untuk dapat berkomunikasi, sebuah handphone juga harus didukung dengan kondisi sinyal yang baik sehingga suara atau pesan yang disampaikan dapat diterima tanpa kendala. Kelancaran komunikasi akan sangat tergantung dengan jangkauan sinyal dari provider. Kalau yang ini, bukan saya yang nentuin, tergantung pilihan pembaca :)
Dalam perjalanan menuju ke kantor, sedikit terganggu (kebiasaan tidur di mobil, niy) dengan seorang ibu yang tak lepas on-line dari handphonenya. Saya sempat berpikir, betah banget si ibu selama perjalanan sekitar 1.5 jam tak putus berbicara. Dari A,B,C, dan seterusnya dan seterusnya. Ach mungkin si ibu sedang menghabiskan waktu dalam kendaraan dan mengusir kesepiannya, sutralah…
Tetapi tiba-tiba saya teringat betapa pentingnya handphone saat ini dalam kehidupan. Jika diibaratkan dengan pacar atau suami, fungsinya akan sama pentingnya. Melalui benda yang kecilnya tidak lebih dari genggaman tangan orang dewasa, dunia dapat terhubung. Bahkan bagi sebagian orang, jika handphone tertinggal, lebih baik pulang kembali untuk mengambil handphone daripada hidup tanpanya.
Sebagai manusia, saya tidak hidup seorang diri. Saya memerlukan orang lain untuk menyatakan diri dan berkomunikasi dengan mereka. Jika diibaratkan dengan handphone, maka keypad dan speaker adalah alat saya untuk berkomunikasi dengan sesama, Sementara supaya agar tetap tunning, saya perlu menjaga sinyal saya dengan baik dengan tidak hanya menjaga kualitas suara tetapi pada sesuatu yang tidak terlihat, tetapi ada, yaitu Sang Pencipta. Bukankah hubungan baik akan tercipta jika ada koneksi yang juga baik?
Bagaimana caranya supaya tetap baik? Selain menjaga sinyal, ya juga harus di charge dan reload. Dalam artian diisi dengan sesuatu yang baik, seperti membaca kitab suci, beribadah atau membaca buku tentang motivasi atau sesuatu yang inspiratif misalnya. Serta direload dengan siraman rohani dari pendeta, pastor, ustad atau seorang motivator. Oh iya, buat yang isi ulang jangan kelupaan dibeli pulsa, dan yang berlangganan bulanan, jangan lupa dibayar, supaya tidak terblokir Means, sesuatu yang positif dan baik tersebut harus secara rutin dilakukan, supaya tetap bisa terhubung, gak ke blok atau tulalit. Kalau koneksi tersebut tetap terjaga, semoga hubungan serta komunikasi yang terjalin tetap selalu lancar jaya.
Be positive to be a better you, and stay connect
Thursday, November 11, 2010
SATE DOMBA AFRIKA CASABLANCA
Guilty pleasure beberapa hari yang lalu, ketika seorang teman memesannya.
Salah satu keuntungan, layanan pesan antarnya di atas pk 22:00 malah menjelang midnight.
Kombinasi sambal mayonaise serta bawang bombaynya menghilangkan dominasi bau daging yang khas
Dompet keluar: Rp35.000
Salah satu keuntungan, layanan pesan antarnya di atas pk 22:00 malah menjelang midnight.
Kombinasi sambal mayonaise serta bawang bombaynya menghilangkan dominasi bau daging yang khas
Dompet keluar: Rp35.000
Wednesday, October 20, 2010
Enjoy Your Journey of Life
Setahun yang lalu, dari hasil pencarian dari Mbah Google mempertemukan saya pada suatu web perjalanan wisata, dengan penawaran sebagai berikut.
Paket menarik bagi saya yang tidak ingin direpotkan dengan berbagai hal remeh temeh seperti booking hotel, trip, kendaraan dan makan, dan baru pertama kali datang kesana.
Dengan paket perjalanan wisata, kita dapat menyesuaikan tempat wisata apa yang akan dikunjungi .Serahkan semua pada penyelenggara paket, semuanya sudah diatur, tinggal bawa badan.
Pada pelaksanaannya, tidak jarang kita perjalanan mengalami kendala, seperti keterlambatan penjemputan, perpindahan lokasi penginapan, makanan tidak sesuai selera dan lain-lain, but the show must go on, karena ada biaya dan waktu yang sudah kita keluarkan untuk paket tersebut.
Seperti halnya paket perjalanan wisata,. kehidupan adalah suatu paket perjalanan yang membawa manusia pada tujuan, dengan Tuhan sebagai penyelenggaranya. Perjalanan manusia itu tidak selalu mulus, kadang ada kendala atau masalah yang dihadapi, sama dengan paket wisata. Di sinilah kita dituntut supaya bisa menikmati, menerima melalui keberserahan kepada Sang Pencipta. Membiarkan Dia memroses, mengatur jalan dan membawa kita menjadi semakin baik dan bernilai.
Apakah kita mau melewatkan momen tersebut dengan sukacita? Sama seperti ketika kita menikmati paket perjalanan wisata atau mengeluh kesana kemari karena perjalanan yang dilalui tidak menyenangkan, pilihan kembali pada kita. Eniwei, jika kita harus membayar untuk sebuah perjalanan wisata, maka perjalanan kehidupan kita sudah terbayar lunas dengan pengorbananNya yang luar bisa di kayu salib.
Have a nice trip, have a wonderful journey….
Subscribe to:
Posts (Atom)

