Thursday, August 5, 2010
Give Thanks
Kemarin malam dalam doa malam antara terjaga dan mengantuk, saya meminta agak diberikan hari yang baru esok pagi.
He answer it! Really...
Hari ini saya mendapatkan sesuatu yang berbeda. Mungkin bukan sesuatu yang wow kelihatannya, tetapi saya benar-benar belajar untuk bersyukur atas segala sesuatu yang sudah diberikan.
Apa saja,ya, yang diberikan?
Nafas kehidupan pada saat bangun membuka mata
Kesempatan untuk bisa bersekutu dengan Sang Pencipta, menyapaNya walau sebentar
Berangkat bekerja dengan tempat duduk yang berbeda, duduk ditengah, biasanya duduk dibelakang
Teman duduk yang tidak bisa berhenti bergerak membuat tidur sedikit terganggu
Tiba di kantor pas-pasan
Bolu Meranti kiriman teman yang habis dinas kesana
Kehebohan sesaat ketika berhasil menyelundupkan makanan dan kegembiraan teman-teman menghabiskan bolu
Mengirim report dan follow up komplain
Makan siang pake kartu makan solusi jitu jika kehabisan uang he he he
Dapat ilmu baru mengubah password untuk router, sebelumnya belum pernah coba dan tau
Harus kembali naik lift lagi ke lantai 10 karena charger tertinggal
Berpacu dengan mendung yang tebal untuk segera pulang
Mampir membeli soya green tea latte idaman seminggu lalu
Naik ojek disela rintik hujan yang mulai membesar
Minum soya green tea latte di halte bus, ditengah hujan besar sambil menunggu hujan reda bersama bapak ojek
Bertemu teman di dalam mobil omprengan
berAC
Terjebak dalam kemacetan jalan tol diiringi musik dari sebuah stasiun radio gaul
Mendengar joke jayus dari penyiar: ikan apa yang jago nyanyi? Jawaban: kakap slank
Hmmm ini yang bisa saya tuliskan, selama perjalanan pulang...
Bagaimana dengan anda?
Adakah sesuatu yang dialami dalam satu, eh tiga perempat hari ini?
Bersyukur dalam hal-hal kecil agar dipercayakan hal-hal yang besar...
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
Friday, July 16, 2010
Euphoria Piala Dunia
Seperti biasa, ada keriaan sesaat di mana semua tiba-tiba menjadi serba bola. Mall-mall, cafe-cafe dengan nobarnya, disudut-sudut jalan di perumahan, di lapangan tak luput dari keriaan.
Masing-masing fans saling menjagokan jagoannya, membentuk kubu-kubu tersendiri pada saat permainan dimulai. Kehebohan bertambah jika salah satu menggolkan.
Permainan bola adalah permainan strategi 11 orang untuk memasukan bola ke gawang lawan. Masing-masing pemain memiliki tugas tersendiri, dan masing-masing memiliki peranan agar dapat menciptakan gol. Kehebatan tim tidak terletak pada keahlian dari pemain saja, tetapi juga ditunjang oleh kerjasama antar anggota tim menggocek lawan dan menggiring bola. Meskipun demikian, tipikal bola yang bundar, terkadang membuat pemain tidak dapat memprediksi arah larinya bola. Seorang pemain hanya dapat mengikuti kemana bola tersebut bergulir dan berusaha mengarahkan bola supaya dapat masuk ke gawang. Oh ya, dalam permainan ini, pemain juga harus mengikuti ketentuan dari wasit dan hakim garis. Terkadang ketahanan pemain juga diuji untuk dapat membuahkan gol.
Seperti halnya pertandingan bola, seperti itulah kehidupan manusia. Kita diciptakan untuk memenuhi tujuan dari Sang Pencipta. Berlari mengejar panggilan dan berusaha mencapai tujuan akhir. Untuk mencapai tujuan, tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada proses yang harus ditempuh. Terkadang perjalanan tersebut bisa saja memutar, terhadang dan tersandung. Disini ketahanan seorang manusia diuji.
Akankah kita menyerah pada keadaan, dan patah arang untuk mengejar panggilan?
Apakah kita tetap mau untuk membawa bola sampai pada mistar gawang dan menggolkannya? Atau kita hanya berputar-putar dilapangan saja?
Berlari mengejar tujuan, sampai di garis akhir.
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
Friday, July 9, 2010
Life Oh Life
Kalo kita ziarah atau datang ke pemakaman, pada batu nisan tertulis nama, tanggal lahir dan tanggal meninggal. Antara tanggal lahir dan tanggal meninggal hanya dibedakan dengan garis tengah melintang.
Yey, ternyata seberapapun umur kita nantinya, hanya garis itu yang jadi pembatas antara kehidupan dan kematian. Dan sejauh itu pula masa kita berada di dunia. Begitu kecil dan pendeknya,ya.
Garis itu jika diuraikan terbentuk dari titik-titik kecil yang sangat banyak. Jika dilihat melalui kaca pembesar atau mikroskop, seperti kumpulan titik-titik berbagai warna. Tidak melulu satu warna, akan tetapi ada warna-warna yang gelap, ada warna yang terang.
Seperti itulah kehidupan. Ada hal-hal yang baik terjadi, ada hal-hal yang kurang baik terjadi. Ada hal menyenangkan, ada hal mendukakan. Banyak hal terjadi dalam kehidupan. Akan tetapi itu semua tergantung dari bagaimana kita mengisi, mewarnai dan membuatnya menjadi penuh.
Sudahkah titik-titik itu diisi dengan sesuatu yang berguna, sehingga pada saat menutup mata, kita memang benar-benar telah selesai dengan tugas yang diberikan oleh Sang Pencipta.
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
Thursday, June 10, 2010
From Asia Conference with Love

Adalah satu hal yang membuat saya menjadi takjub sendiri akan kemurahan Tuhan. Ya, it's a privilage bagi saya diizinkan dalam kurun dua bulan kembali menginjak negara tetangga, Singapura. Rasanya seperti naik PATAS, bisa naik turun sesukanya.
Bukan suatu kebetulan jika saya diizinkan untuk dapat pergi kesana dengan segala keterbatasan. Yang saya inginkan bahwa pergi dan pulang ada sukacita luar biasa didapat baik secara perorangan atau kelompok.
Bersama 42 orang teman-teman dari Frontliners, the journey begin. Dengan dua orang teman, Grace dan Vanda, kami tiba lebih cepat 1 hari, 24 Mei 2010. Konferensi sendiri baru akan dimulai pada hari Rabu, 26 Mei. Registrasi peserta dibuka pada hari Selasa, 25 Mei 2010 pk 15:00 waktu setempat. Oh ya, kami bertiga registrasi duluan, sambil menunggu kedatangan rombongan. Selang 5 menit setelah itu, antrian berubah menjadi amat panjang.
Acara yang diikuti sungguh padat. Dimulai dari pk 9:00 sampai pk 22:00. Break makan siang pk 12:00-14:30. Setelah itu ada elective workshop dengan pembicara luar biasa. Elective workshop selesai pada pk 17:00. Kemudian istirahat makan malam sampai pk 19:00.
Antusiasme peserta begitu dasyat. Terbukti dalam setiap waktu break telah terjadi antrian-antrian panjang untuk masuk ke main hall. Apabila tidak dapat di main hall masih terdistribusi di hall 7 atau 10 dengan fasilitas yang luar biasa, screen-screen besar dari berbagai sisi.
Tercatat 32.000 orang dari 70 negara yang hadir dalam konferensi tersebut.
Sulit rasanya mengekspresikan dan berbagi cerita, karena sepertinya tidak akan cukup satu tulisan tentang perjalanan ini. Akan tetapi saya share 1 foto dari Asia Conference yang mewakili ekspresi yang tidak terlukiskan itu, pada malam terakhir di Singapore Expo Hall 8, Jumat 28 Mei 2010.
Love yourself more
Love others more
Love God more
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
Tuesday, June 1, 2010
Think Before Act
Di saat itu saya membaca sebuah headline di situs berita lokal, seorang mahasiswa terancam diskors dari kampus karena status FB. Kejadian sederhana yang menjadi tidak sederhana, sebuah reaksi yang reaktif. Itu yang terlintas dibenak saya.
Bermula dari kekecewaan dari pertandingan bola lokal, Persipura melawan Persib. Kekecewaan yang dilampiaskan dengan mengupdate status melalui situs pertemanan yang nota bene dibaca publik dan menimbulkan ketersinggungan pihak tertentu.
Hmmm... Kita sering kali mudah bereaksi dengan suatu kejadian, tanpa memikirkan akibatnya. Melihat sesuatu, dengan cepat diekspresikan. Gak ada salahnya juga, siy. Akan tetapi, bisa jadi ribet dan berabe jika timbul reaksi yang kurang berkenan, seperti marah. Terkadang kita suka tidak sadar dengan akibat yang menanti setelah itu.
Tidak jarang terjadi kasus serupa yang berbuntut pada kerugian si penulis. Maksud hati hanya melampiaskan perasaan, gak taunya menggegerkan perasaan. Tercatat dua atau tiga peristiwa yang pernah saya baca tentang update mengupdate status ini.
Sama halnya dengan mencurahkan isi hati melalui situs pertemanan meski virtual.
Diibaratkan berbicara dengan teman face to face, tentu saja bahasa yang digunakan lebih santai dan cenderung lebih spontan. Siapa juga yang mau berbicara dengan teman dengan bahasa yang resmi? Sungguh canggung rasanya.
Menyambung kondisi sariawan saya, di satu sisi saya jadi belajar mengendalikan mulut. Setiap kata yang keluar menjadi berharga dan amat dipikirkan. Tentu saja, karena jika terlalu banyak berkata-kata, mulut saya menjadi amat nyeri sampai ke gigi.
Sambil merenungi kejadian tersebut, saya berpikir, ada benarnya jika Sang Pencipta menciptakan manusia dengan komposisi sempurna. Dua mata, dua telinga dan satu mulut. Supaya kita bisa lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar dibanding dengan berkata-kata. Lebih bijak berpikir sebelum mengutarakan sesuatu.
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
Thursday, May 20, 2010
It's A Wonderful Life - Arie Saptaji
Menyitir istilah dari buku ini dalam salah satu babnya: Beberapa Pelajaran dari Anak Saya, mengapa harus membatasi dengan rasa manis, asam, pahit, asin? Mengejutkan. Benar, membaca buku ini memang mengejutkan. Seperti roller coster, naik dan turun, Mas Arie membawa saya untuk mengikuti tulisannya.
Dengan bahasa yang sederhana, Mas Arie berbagi kisah hidup dan pemikirannya. Saya diajak untuk tersenyum, trenyuh, terinspirasi, malu, merenung, sedih dan belajar melalui tulisannya secara bersamaan.
Setiap bab memiliki makna yang berbeda yang dipaparkan secara terpisah, tetapi menjadi satu kesatuan. Suatu pengalaman, perenungan serta ungkapan syukur tentang anugerah Tuhan yang luar biasa dalam kehidupan, suka maupun duka yang diceritakan begitu ringan, akan tetapi sarat makna.
Buku ini juga menunjukan ekspresi kasih penulis dari, untuk dan oleh keluarga, teman, komunitas dan tentu kepada Tuhan. Pembelajaran untuk memaknai hidup dan bersyukur atas kehidupan yang sudah diberikan, seperti mencatat hal-hal kecil yang menyenangkan, bukan hanya perkara-perkara besar atau hebat. Inspiratif...
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
Monday, May 17, 2010
Invictus

Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.
In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.
Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.
It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.
(William Ernest Henley 23 August 1849 – 11 July 1903)
Judul puisi yang diadaptasi menjadi sebuah film diproduseri oleh Clint Eastwood dari sebuah buku karangan John Carlin berjudul Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation. Bercerita tentang kehidupan Nelson Mandela setelah ia menjabat menjadi presiden. Suka duka membangun kesatuan suatu negara melalui pertandingan olahraga rugby dalam Rugby World Cup 1995 yang diadakan di Afrika Selatan. Menumbuhkan kecintaan bangsa terhadap olahraga yang menjadi favorit minoritas di negara tersebut.
Invictus berarti tidak terkalahkan. Merupakan pernyataan keyakinan untuk tetap menjalani kehidupan tidak peduli pada kondisi atau lingkungan. Menggambarkan keadaan si pengarang, Henley yang pada saat itu terkungkung karena keterbatasan tubuhnya yang digerogoti oleh penyakit. Puisi ini menjadi inspirasi Mandela selama mendekam di dalam penjara selama 30 tahun untuk tetap memiliki semangat hidup.
Saya tersentuh dengan dua baris terakhir dari puisi tersebut: I am the master of my fate: I am the captain of my soul. Ya, semua kendali yang ada kembali pada diri kita sendiri. Karena hanya kita yang dapat mengusai pikiran dan tubuh kita, bukan orang lain. Hanya kita yang dapat menentukan kemana kita mau melangkah dan mengambil sebuah keputusan, tidak dipengaruhi dengan kondisi dan lingkungan.
Sama seperti keputusan Mandela melakukan sesuatu yang tidak biasa dan ditentang, tetapi tetap fokus pada tujuan akhir. Tidak menyerah pada dengan kondisi yang ada, dan tetap berserah pada yang kuasa. Tidak membiarkan orang lain mengendalikan kehidupan.
Tetapkan tujuan, jangan menyerah dengan keadaan dan tetap fokus meraih impian.