Monday, July 11, 2016

Praise The Lord

Saturday, July 9, 2016

Saturdate at Kota Tua

Udah lama gak corat-coret diblog ini. Rasanya gatel pingin nulis, apa daya tangan gak mampu lantaran otak lagi mandeg. Setelah berbulan-bulan, kali ini, sekelumit cerita jalan-jalan dalkot. Yach, namanya juga liburan jaga kandang...

Setelah tertunda beberapa hari, akhirnya kesampaian juga pergi ke Kota Tua naik KRL. Maklum stasiun asal cuman tinggal ngesot hehehehe. Berangkat setelah makan siang sekitar pk 13:00 dengan asumsi kereta kosong, salah banget sodara-sodara. Ini arus mudik dan liburan anak sekolah, so mau gak mau harus ke stasiun Bekasi dulu, dan teutep full hehehhe. Bekasi-Kota berdiri? Enjoy ajaah...

And the journey begin ketika KRLmulai bergerak dari stasiun Bekasi menuju stasiun Jakarta Kota pk 13:30.

Kami tiba di Stasiun Jakarta Kota pk 15:00, setelah melewati underground connector dengan petunjuk informasi cukup jelas, sampailah kita di Museum Bank Indonesia. Loket tiket ada dua bagian, umum dan pelajar. Kalau punya kartu pelajar/mahasiswa, bisa masuk gratis. Luar biasanya,loket cukup ramai dengan pengunjung. Rogoh kocek Rp5000 per orang, masuklah kami ke dalam. Oh iya, sebelum masuk, semua bentuk tas harus dititipkan di tempat penitipan barang, hanya diperbolehkan membawa dompet dan hp. Sebagai tanda, diberikan tag bernomor yang dapat ditukarkan kembali setelah selesai menjelajah museum. Salut untuk petugas yang tegas dengan logat khasnya membuat pengunjung tidak mampu menolak dan mengikuti peraturan sambil tersenyum simpul.

Cukup terkesan dengan museum ini. Meskipun berada di gedung tua, dirawat dan dikelola dengan baik. Informasi disampaikan menggunakan teknologi yang cukup mutahir. Terbukti dengan adanya screen-screen  yang menceritakan sejarah perbankan Indonesia, ruang teater dan beberapa diorama, ditunjang dengan penerangan yang cukup layaknya museum di luar negeri. Hmmm, mungkin karena disponsori oleh salah satu bank terkemuka di Indonesia, jadi benar-benar diperhatikan sebagai bentuk warisan budaya Indonesia. Karena waktu tutup museum ini pk 16:00, kami agak bergegas menuntaskan kunjungan di lokasi ini dan beralih ke lokasi selanjutnya.

Berjalan sekitar 200m, tibalah kami di Kota Tua, dimana ada beberapa museum seperti Museum Fatahillah, Wayang dan Keramik mengelilingi lokasi. Kali terakhir saya berkunjung, kendaraan masih bisa parkir di dekat lokasi. Sekarang, semua akses ke Kota Tua hanya dapat di tempuh dengan berjalan kaki. 

Kondisi jalanan padat manusia dan pedagang kaki lima. Mention it: mulai dari baju, sepatu, tas, gelang, tongsis, tukang ramal, tukang ngamen, tukang jualan kerak telor, es selendang mayang, es potong, dll ini memenuhi jalan masuk dari arah Museum Bank Indonesia dan ini berlanjut sampai tkp. Yang ada, belok kiri, grakkk... Masuk Museum Wayang. Kembali merogoh kocek Rp 5000 per orang, petualangan perwayangan dimulai...

Kesan bangunan lama sangat terasa di Museum Wayang. Bau khas ruangan tertutup dan agak suram. Selain itu, banyak display kosong bahkan ada kaca yang bolong. Padahal antusiasme pengunjung untuk masuk cukup banyak.Terdapat berbagai jenis wayang baik kulit maupun golek. Menariknya, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri tersendiri untuk wayang. Salah satunya display wayang Gatotkaca. Selain itu, terdapat wayang-wayang pemberian dari negara-negara lain seperti Malaysia, Kamboja, India, Cina, Rusia, Prancis dan Amerika.

Tujuan selanjutnya, Museum Fatahilah. Apa daya, sang pintu merah sudah tertutup hanya untuk pemegang tiket. Kami bergeser dan berencana untuk masuk ke museum Keramik yang berakhir pada kegagalan, karena petugas menginformasikan dengan luas 8000m2 dan terdiri dari dua lantai tidak cukup hanya dengan 10 menit. Yo wess putar haluan jalan-jalan keliling lapangan aja. 

Dari dua museum yang dikunjungi, ternyata animo orang Indonesia terhadap museum sudah mulai meningkat, terutama untuk selfie dan wefie hehehhe, ketimbang membaca cerita sejarah, termasuk saya wkwkwkww. Tinggal cari spot menarik, pake tongsis atau timer, jepret. 

Lelah berjalan, kami mendaratkan pantat di Cafe Batavia, restoran sekaligus bar menyajikan makanan internasional dan lokal. Interior cafe dibuat sedemikian rupa mengesankan restoran di zaman kolonial perpaduan budaya Betawi, Cina dan Belanda dengan alunan musik oldis dari negeri kincir angin.

Rogohan kocek kali ini agak dalam, karena variasi harga mulai dari 30ribuan - 1jutaan. Tentu saja dimulai dengan minuman pembuka, segelas mixed fruit dan bir pletok menuntaskan dahaga. Dilanjutkan dengan main course nasi meneer, nasi putih  terdiri dari oseng tempe, rendang, urap, telur balado dan sambal mengganjal perut dan mengembalikan energi yang terkuras. Ditutup dengan rekomendasi ibu pemilik sambil berujar, biar datang mampir lagi kesini, 3 scoop homemade es krim raspberry, pistachio dan guava dengan whip krim dan topping waffle serta buah cherry, apel dan jeruk serta di dasarnya diberikan serutan melon, Batavia Orgy, supeerrrrrr... Memberikan sensasi rasa nano-nano yang nyess dalam mulut, dan masih terbawa bahkan ketika sampai di rumah.

Kampung tengah telah terisi, hatipun senang. Saatnya berkemas pulang. Malam menjelang ketika kami melintas di tengah lapangan berbaur dengan pengunjung yang menikmati malam tak berbintang. Entah hanya duduk-duduk menggelar tikar, bermain dengan sepeda sewaan, berfoto dengan street performer yang menyerupai prajurit, pendekar, noni belanda bahkan hantu atau sekedar bersenda gurau, bercengkrama dengan teman, sanak saudara, kakak, adik, anak, semua tumpah ruah menikmati liburan. 

Langkah terayun, kami pulang. Meninggalkan delman-delman dan boneka-boneka karakter, dengan satu tekad, we'll be bacckkk.. Next time kudu berangkat lebih pagi, soalnya masih ada museum yang belum kami kunjungi, dan tentunya mencicipi makanan khas yang tersedia di sekitar lokasi. 

Ketika kami tiba kembali di rumah pk 21:00, meskipun kaki lelah, hati sungguh senang. Kebahagiaan itu pilihan, bukan perasaan. Bukan seberapa jauh atau mahalnya perjalanan, tapi meluangkan waktu dengan orang-orang terkasih, itu adalah momen yang tak tergantikan.


Saturday, October 17, 2015

Lesson to Learn: Story of The Great Warrior

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa hampir dua dasawarsa, ya sudah hampir dua dasawarsa...
Saya teringat ketika itu saya yang kuliah di luar kota sedang berlibur di Bekasi. Kami sedang bercengkrama di ruang keluarga, tiba-tiba mama mengeluh gatal di daerah payudaranya. Ketika diperhatikan, seperti digigit serangga, memerah dan gatal sekali. Waktu itu, karena dikira digigit serangga, mama hanya mengoleskan minyak tawon di lokasi gatal. Kecurigaan bertambah, ketika keesokan harinya gatal tidak mereda. Akhirnya mama berkonsultasi ke dokter dan disarankan untuk mamografi. Keputusannya diambil 3 hari kemudian dan dilanjutkan dengan konsultasi ke dokter internis. Karena saya masih ada kewajiban menyelesaikan beberapa mata kuliah, saya putuskan untuk kembali menyelesaikan kuliah sambil menunggu kabar selanjutnya dari mama.

Seperti petir di siang bolong ketika menerima telepon dan diminta pulang segera ke Bekasi. Bad news, mama divonis terkena kanker payudara. What? KANKER? Sering saya mendengarnya, tapi saya tidak menyangka kalau ini akan menimpa seseorang yang sangat saya kasihi, mama saya. Tidak tanggung-tanggung stadium 3b...

Singkat cerita, keputusan diambil, perawatan akan dilakukan di Jakarta. Sayangnya karena mama mengidap diabetes, operasi yang dilakukan hanya bisa mengangkat sebagian, tidak mengangkat tuntas semua payudaranya.

Setelah itu, proses dilanjutkan dengan kemoterapi. Sebelumnya mama rajin mencari informasi seperti apa kemo itu. Dari informasi yang diperoleh, akan muncul keluhan-keluhan seperti mual, muntah-muntah, bibir kering dan rambut rontok dalam jumlah banyak. Akan tetapi, di tahun itu keluar obat kemo baru yaitu taxotere, yang katanya memiliki sedikit efek samping, sehingga mama hanya mengalami kerontokan rambut tanpa mengalami mual atau muntah.

Sampai pada tahap akhir pengobatan yaitu radiasi sekitar 25-30 sesi. Ia rela tubuhnya ditandai dan kulit putihnya menghitam karena radiasi. Wanita mana yang gak sedih,ya? Tapi, mama saya menghadapinya dengan senyum...

Saya salut dengan perjuangan mama melawan kanker. You are a GREAT WARRIOR, Mom!
Keinginan untuk sembuh tidak pernah berhenti. Tetap semangat, pantang menyerah dan tidak pernah mengeluh. Pembawaannya yang ceria membuat orang tidak menyangka ia mengidap penyakit yang kronis.
Ketika rambutnya yang banyak rontok, mama tanpa ragu memotong rambutnya sampai habis. Kata mama, ahhh kan nanti tumbuh lagi.
Sebagai gantinya, ia memiliki wig dan topi- topi yang modis untuk dikenakan.

Membaca sepenggal kisah Indah melalui Facebook dan melihat update perjalanannya sebagai survivor kanker, mengingatkan saya pada ibunda terkasih... Terlebih melihat foto-foto update mu after kemo, Ndah...

Dua minggu lalu saya menerima kabar seorang teman dekat terkena kanker darah, berbagai perasaan kembali berkecamuk. Seperti ada bel yang berbunyi dalam pikiran saya, seolah mengajak saya kembali memaknai sekolah hidup, belajar dari kisah mama dan kisah kamu...

Teng Teng Teng Teng

Bel Pertama
Menghargai tubuh yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta, yang dibuat begitu sempurna tanpa cacat dan punya tujuan khusus.
Sayangnya kita suka gak peduli menjaga tubuh. Asupan makanan tidak seimbang, kurang olahraga dan terlebih stres bisa memicu perkembangan sel-sel abnormal dalam tubuh muncul.

Switch into:
Love your bodies
Take a rest
Always have me time

Bel Kedua
Memiliki hati yang selalu bersyukur dan gembira.
Ada pepatah mengatakan hati yang gembira adalah obat dan semangat yang patah mengeringkan tulang. Tidaklah mudah menjaga hati untuk tetap selalu waspada, sehingga ia tidak mudah untuk terkontaminasi dan berhenti mengalirkan air kehidupan karena sikap kita dalam memandang kehidupan, cenderung pesimis dan apatis.

Switch into
Don't worry be happy.
See something out of the box in a good way.
Be more proactive rather than reactive

Bel Ketiga

Have a Warrior mind set

Punya jiwa seperti pejuang, yang tidak pernah menyerah sampai titik darah penghabisan. Berani menghadapi tantangan yang menghadang, mengalahkan rasa takut yang muncul dan menjadi pemenang

Switch into
Never give up
Be strong
Be brave

Thank you for sharing your life, Mom

Thank you for sharing your journey, Indah

I open my eyes wide to enjoy this amazing life...

In Loving Memory beloved mother

Judith Henriette Sumarmi Winter Syafril

25 April 2000 - 25 April 2015


Saturday, September 26, 2015

Pursue Your Passion

Sabtu minggu lalu, saya mengikuti pertemuan komunitas wanita SWAN dengan tema Wonderwoman.

Ahaaa, bukan berarti kami menggunakan baju minim berwarna biru, merah atau putih, yaaa. Mewakili tema wonder woman, masing-masing kami yang hadir diberikan mahkota emas.


Karena aktivitas yang padat pada hari itu, dengan sangat terpaksa, saya baru bisa join ketika  diskusi kelompok. Itupun diskusi sudah setengah berjalan. So sedikit terbengong-bengonglah saya, ketika ditanyain, what is your biggest dream or passion? Something you do longtime ago but because of something you stop to do but you wanna do it or you miss to do it again...

Setelah menyimak sharing dari beberapa teman dalam kelompok, tibalah giliran saya. Hmmm share apa yaa? Ting ting voila! Saya teringat dengan piano. Begini ceritanya.

Waktu aku kecil sekitar 5 tahunan mama ngajarin aku main piano. Aku ingat diajarin lagu Chop Stick dan Boneka Abdi. Oh iya, mama juga ngajarin aku kunci-kunci sederhana. Setelah itu, aku sudah bisa bermain lagu anak-anak sendiri. Hampir tiap hari, tiada hari tanpa piano. Kelas dua SD aku diikutkan les privat dari sebuah sekolah musik di kawasan Rawasari Jakarta. Dan tentu saja mulai ikut konser kecil yang diadakan dari sekolah musik itu. Sayangnya saat kami pindah rumah, les dihentikan karena jarak terlalu jauh. Akan tetapi tidak menutup keinginanku untuk bermain dan berlatih piano sendiri di rumah.

Aku berhenti total bermain piano ketika kuliah di luar kota. Berhubung tidak ada sarana untuk berlatih, dan aktivitas kemahasiswaan yang cukup menyita waktu, perlahan-lahan intensitas bermain piano semakin berkurang. Jika ada, hanya sebatas main band di kampus. Itupun bisa dihitung dengan hari.
Dan semua berlanjut sampai lulus kuliah dan bekerja. Seakan terkubur jauh entah kemana.

Diawal tahun 2015 aku dan suami diminta untuk menempati rumah peninggalan orang tua. Guest what? Aku dipertemukan kembali dengan piano lamaku....
Suaranya masih tetap nyaring, walau perlu perbaikan sana sini. Menyenangkan. Tapi, again karena kesibukan kadang dia ditinggalkan berdebu tanpa disentuh dan dimainkan.

20 tahun ya 20 tahun...
Sungguh menggelitik jiwa untuk bisa kembali menekuni main piano. Berkelebat dalam pikiran untuk mulai belajar lagi. At least pianonya dibenerin dulu, trus ambil les atau sebangsanya will become my next to do list... Kan kalau sudah lancar lagi, bisa ngajar juga.

Keinginan hanya menjadi sebatas keinginan kalau tidak diwujudkan, sampai pada pertemuan ini. Menarik semua pikiran saya untuk kembali mengejar sesuatu yang saya kira hilang, akan tetapi lekang oleh waktu.

Diakhir acara kami diminta untuk mewujudkan keinginan terpendam tersebut menggunakan lilin malam sebagai langkah profetik...


Yusuf, Daniel, Samuel bahkan Maria adalah orang-orang pilihan Tuhan yang diberikan mimpi dan mengambil langkah untuk mewujudkannya. It means gak ada alasan buat saya untuk membiarkan apa yang menjadi keinginan di masa kecil berlalu begitu saja. 


Berdiam diri sejenak

Think about your passion 


Pursue it



Saturday, June 20, 2015

Bird Feeding

Sometimes we worries of all things in our life. 
Work, family, what to eat, what to drink
Small things, Big things put in our head, and we begin to think, think and think
We put all the effort to fixed it all by ourself
We forget there is one person who has ALL THINGS
To whom we could give all things we think

Wednesday, December 31, 2014

Catatan Akhir Tahun

Ahaaa... Kali ini menyempatkan diri untuk sedikit coret-coret. Biasanya kalau udah masuk di bulan Desember, perasaan mulai mellow... Senang, sedih semua campur aduk.

Waktu itu cepat berlalu, yakkk. Kayaknya baru kemarin ngerayain tahun baru 2014, ini sudah mau menyambut 2015 lagi. Ada sesuatu siy, yang mengusik di penghujung tahun ini. Jika flashback back dari awal, many things yang terjadi. Either dalam kehidupan rumah tangga, bisnis, pekerjaan, kehidupan sosial, berjemaat dan lain-lain. Yang jelas, tetap selalu bersyukur untuk segala sesuatu yang boleh dilewati, karena pasti itu part dari rencana Tuhan... Dan itu selalu baik.

Terkadang jika dipikir-pikir, siapa yang bisa mengerti rencananya Tuhan? Minggu yang lalu, mungkin masih bertemu dengan sanak keluarga, bersukacita merasakan libur bersama dengan orang-orang yang dikasihi. Siapa sangka jika menjelang tahun baru ini ada keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka kasihi? Little bit shock mendengar dan melihat jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501Surabaya - Singapura di Pangkalan Bun. My prayer for the family, supaya diberikan kekuatan iman dan ketabahan. 

Kelahiran dan kematian itu tipis bedanya, yaakk... 
Tetap jadi misterinya kita manusia, karena gak ada yang bisa tau kapan terjadi. 
Pertanyaan yang menjadi perenungan saya di hari terakhir 2014 ini:
Apakah kamu telah siap jika dipanggil yang Kuasa? 
Apa yang telah engkau kerjakan? 
Apakah berbuat baik saja cukup? 
Bagaimana hubunganmu dengan sesama?
Hubunganmu dengan Tuhan?
Apakah kamu sudah melakukan yang Ia kehendaki?

Tssskkkk hufffttt tarik nafas panjang.... 
Satu lagu rohani lama dari Jonathan Prawira yang tiba-tiba melintas memberikan jawaban

‘KU DATANG YA BAPA DALAM KERINDUAN
MEMANDANG KEINDAHAN-MU
KUBERIKAN S’GALANYA, SEMUANYA YANG ADA
‘KU INGIN MENYENANGKAN HATI-MU OH TUHAN

JADIKAN AKU INDAH, YANG KAU PANDANG MULIA
SETURUT KARYA-MU DI DALAM HIDUPKU
AJARKU BERHARAP HANYA KEPADA-MU
TAAT DAN SETIA KEPADA-MU TUHAN

Nothing more that I can do except to do your will, Lord

Just wanna make You happy



Selamat menyongsong tahun 2015

This will be a great year

Year of multiplication, break through, miracles, sign and wonder

Again, LET THY WILL Be DONE

Happy New Year

To God be the glory