Friday, April 8, 2011

Where Did You Put The Remote Control?


Sambil nebeng mobil dalam perjalanan makan siang di daerah Kramat, saya terlibat suatu percakapan dengan sang supir yang nota bene teman saya, bukan supir taksi: Gerry Abednego

Saya  :  Gimana share kamu hari Jumat yang lalu, Ger? Sorry can't attend it
Gerry :  Wowww, (dengan logat khasnya) Kemana kau? Berarti kau ketinggalan shareku 
Saya  : Wah... Apaan tuch? Share dungss di sini
Gerry :  Hmmm... Kau baca sajalah. Sengaja aku tulis buat kau baca..(sambil membuka ipadnya dan mengangsurkannya pada saya).

Sekilas saya membaca judulnya, hmmm menarik...
Ia mengambil analogi yang tidak umum menurut saya, akan tetapi masuk akal dan sangat wajar di kehidupan kota besar seperti Jakarta. Dengan analoginya tersebut, ia berhasil menjelaskan tentang mengatur, diatur dan pengatur.

Eh, dia juga berbaik hati mengirimkan tulisannya via email, lho... Sst benernya saya sendiri yang mengirimkan, setelah ada izin dari beliauw.
So tanpa menunda-nunda, silakan dibaca saja tulisannya di sini.
Lengkap tanpa sensor sor sor sor.
Eniwei, thanks Ger, for share...
Indahnya berbagi...    

Tv adalah suatu alat yang sudah pasti harus ada di setiap rumah di dunia

Dia bisa gak punya perabotan lain, tapi TV pasti ada
Itu adalah alat yang luar biasa yang disebut jendela dunia
Dimana kalau kita kedatangan tamu, dan pembicaraan sudah mulai kaku, kita bilang nonton tv yuk
Dan kamu menyalakan TV

Kita menikmati menonton TV, dan seperti terhanyut di dalamnya, dan apa bila kita tidak suka kita langsung mengganti channelnya.
Kamu tidak biarkan diri kamu didikte oleh acara TVkan, dengan ratusan pilihan yang kamu punya
Kamu gak biarkan channel itu mendikte kamu kamu harus nonton apa.

Seringkali waktu iklan muncul, kita langsung mengambil remote dan mengganti channel nya
Waktu iklan sutra julia perez, dan kamu langsung ambil remote, dan ganti channel
Sinetron pasti gw ganti channel, cinta fitri.. Farel..

Dan saya lama kelamaan mulai cari remote, secara reflek..
Pasti di sini.. Eh..
Dan kalo gak ketemu dan ala sinetron punjabi, jeng jeng

Petinggi logitech.. bilang hanya ada beberapa hal yang bisa membuat kamu lebih frustasi daripada mencari remote ke sekeliling rumah

Dan kita mulai menuduh, orang2 yang kita sayangi :
Where did you put the remote ?
Kau taruh dimana remote nya?

Itulah judul share saya siang ini
Where did you put the remote?
Di mana kau taruh remote nya

Remote didefenisikan oleh meriam webster sebagai alat control operasi
Alat kendali operasi

Kalau kita ditanya dimana remote kamu oh ada di Tuhan remote saya
Tapi seringkali seperti yang kita bahas tadi, tiba tiba remote nya gak ada di situ..
Dan kebanyakan kita tidak tahu dimana remote hidup kita.

Oke saya kasi contoh yang baru terjadi :

Cerita Gerald,
Mami yang bereaksi berlebihan jika abang saya tidak pulang.
Dan kami sekeluarga dikendalikan oleh abang saya ini.

Cerita saya dan bos saya
Sering kali waktu saya melakukan sesuatu, tetapi jika dia melakukan suatu aksi, saya langsung bereaksi
Sering sekali saya melakukan tindakan bodoh, karena bereaksi atas tindakan bos saya.

Reaksi yang saya sendiri gak percaya itu adalah saya
Reaksi yang sesudah saya lakukan,
Dan itu cepat sekali,
Dan saya sangat sesali kemudian..

Kamu tahu defenisi ke dua remote, kontrol operasi jarak jauh.
Dimobil bayangin bos saya.. Saya bisa marah
Kita paling kreatif untuk menyusun rencana balas dendam

Do you get what I mean..

Anggap diri kita ini TV
Kamu menyerahkan remote atas kamu, waktu kamu marah, waktu kamu membenci seseorang.

Booker T Washington
Adalah seorang yang terlahir sebagai budak
Jadi dia lahir langsung tau betul apa itu dikontrol
Akhirnya dia kuliah dan jadi politisi
Bukunya yang terkenal berjudul Up from Slavery bilang begini :
I will never allow another man to control my life by making me hate him
Saya tidak akan pernah membiarkan orang lain mengendalikan hidup saya dengan membuat saya membenci nya.Saya tidak akan menyerahkan remote saya ke orang lain, dengan cara membenci orang tersebut.

Kamu sadar gak, kamu yang secanggih ini dikendalikan sama orang yang kamu tau gak banget
Abang saya itu, bukan yang paling bijaksana di keluarga, bukan yang paling sukdes di keluarga

Bos saya itu tidak punya wawasan atau people skill yang lebih baik dari saya, tapi yang pasti dia pegang remote nya.

Orang yang pegang remote gak harus canggih. Tv boleh secanggih apapun, plasma, lcd, led..
Yang pegang remote boleh idiot.. Tapi tetap yang idiot itulah yang mengendalikan kamu
Karena dia pegang remote.
Kenapa remote nya bisa ada di dia ? Karena kamu kasi ke dia remote nya ! Dengan cara membenci dia
Dan orang yang tidak mengerti menggunakan remote nya biasanya merusak alat tersebut

Remote wc di menteng
That's why keluarga kamu rusak
Kamu berantakan.. Keadaan tidak terkendali..
Lha orang yang kamu kasi pegang remote juga orang yang tidak capable..
Tidak dewasa lah istilah nya
Remote nya dipegang bandar narkoba..
Ya makin kacau..

Rick Warren dalam salah satu khotbah nya bilang bahwa :
Kedewasaan adalah : staying in control while under pressure
Tetap dapat mengendalikan diri di bawah tekanan.
Tetap pegang remote waktu di bawah tekanan.

Tapi apa yang terjadi dengan kita?
Kita lagi tertawa dan bergembira dengan teman teman kita, dan tiba tiba orang yang kita benci masuk ke ruangan, kita langsung diem. Kaya dia pencet tombol mute. Itu masih mending lho, kadang dia ganti kita dari channel ceria ke channel dendam, dan pembenaran.
Dendam dan pembenaran
Kita langsung curhat, liat gak waktu dia masuk, gw cuek aja kaya dia gak ada di ruangan.
Yang pasti kita bereaksi. Dia pencet remote, kita bereaksi. Dia berbisik, kita pikir ngomongin kita
Langsung kita telfon, dan tanya, ngomong apa dia tadi?Ngomongin gw ya.. Dia masuk, mood kita di meeting berubah.. Kita lagi nyetir, mengkhayal sendiri jadi marah. Kita gak sadar kita sudah berikan kepada dia remotenya.

Survey yang di publish, 3 hari yang lalu bilang kalo setelah hilang remote paling sering ditemukan di sofa,
kemudian freezer, kamar mandi, dan terakhir mobil.

Percuma kamu hindari dengan cara pindah kerja
Orang-orang yang buat masalah dengan kamu ada di tempat mana kamu merasa nyaman,
No satu di sofa lho.. Tempat kita nyaman

Saya kerja di pajak, dan saya benci bos saya itu
Akhirnya saya pindah keluar, mencoba kerja sendiri, dan kemudian membentuk partnership dan partner saya, yang merupakan sahabat saya paling lama
Sofa saya, mulai membuat saya menyerahkan remote kepada dia.
Interaksi kita di kerjaan mulai membuat saya membenci nya
Jikalau dia mulai mempertanyakan kebijakan saya, saya mulai langsung bereaksi
Pasti ada masalah yang tanpa sadar membuat kamu menyerahkan remote kamu,

Alkitab bilang di James 1 : 2
Whenever, pasti..
Mau kamu lari kemana..
Fall, diwaktu yang tidak diduga, biasa nya lebih awal..

Kamu baru bertobat.. Hidup sedang berwarna dengan Tuhan,
Orang yang kamu benci lewat, dia pencet remote..
Langsung OFF
Gelap langsung.. Tuhan pun tidak kelihatan lagi

Saya tau itu susah,
Kaya ibu saya bilang.. Saya gak bisa..
Saya tau itu tidak mudah..
Mari saya beritahu antidote nya..
Kita buka Roma 12 : 20
Berilah
Berilah
Be an actor not a reactor

Victor Frankle, di Auswitch bilang
Mereka boleh melucuti pakaian saya, ambil istri, anak, dan cincin pernikahan saya.
Saya berdiri telanjang di depan pasukan SS, tapi mereka tidak bisa mengambil kebebeasan saya untuk memilih bagaimana saya akan merespon mereka.

Bedakan respon dengan reaksi
Menumpuk bara diatas kepala mereka..
Waktu remote rusak itu stress banget buat mereka..
Either mereka harus buat remote organik
Mainin remote pake kaki
Atau kamu keluar cari batere

Gak papa jadi delay di mereka, tapi itu bagus buat kita
Kamu harus make sure kalau kamu mau melakukan sesuatu,
Kamu melakukan nya bukan karena reaksi atas orang yang kamu benci itu
Tapi benar benar atas kemauan kamu sendiri

Joyce Meyer bilang
Love is a decision, decision on how we will treat people
Love adalah suatu keputusan, memutuskan bagaimana kita memperlakukan orang
Aku tau itu susah sekali lagi
Itu maka nya dikatakan di Amsal 16:32

He who slows to anger is better than the mighty
And he who rules his own spirit than one who captive a city
Siapa yang memegang remote nya sendiri, di lebih baik dari orang yang nerebut kota.

Tapi aku kenal satu orang,
Yesus, meekness
Lemah lembut bukan kelemahan
Tapi strength under control
Kekuatan yang under control..
Dia gak mau bereaksi diperlakukan demikian

The point is not in the power, it's on the control
Can you imagine that great power controled by the masses?

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena ia akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang pegang remote nya sendiri
Berbahagialah orang dapat mengendalikan reaksi nya,
Karena kamu yang mengontrol situasi, bukan situasi yang mengontrol kamu
Bukan situasi yang mendikte kamu, maka kamu akan memiliki bumi.

Meminta maaf
Actually kamu yang perlu
Kamu perlu meminta remote kamu kembali
Hati kamu di kasi hati yang baru
Kaya dompet baru, apa berarti kartu kredit kamu semua baru?
Pada saat hati kamu di jamah Tuhan, orang yang kamu benci itu masih ada di hati kamu
Tuhan mengetuk hati kamu, masuk ke dalam hati kamu, duduk di ruang tamu di hati kamu
Tapi yang duduk di sebelah Tuhan adalah orang yang kamu benci, dan pegang remote pula
Dia gak mau rebut remote itu
Dia mau kamu ambil remote kamu dari orang itu, dan kasih Ke Tuhan remote nya.

Spend your weekend collecting your remote

;)

Gerry Abednego

Saturday, April 2, 2011

You Are Precious

Siapa yang tidak kenal dengan berlian? Berlian atau diamond adalah salah satu perhiasan pilihan wanita selain emas dan perak. Bentuknya yang everlasting dan flexible, bisa digunakan untuk cincin, kalung, anting atau berbentuk bongkahan. Semakin tinggi karatnya semakin berharga.

Kata diamond atau berlian ini berasal dari bahasa Yunani, adamas atau adamantas, yang artinya tidak dapat dihancurkan.
Terbentuk dari batuan yang mengalami proses pada 140km - 180km jauh di dasar bumi, berlian ditempa dalam perut bumi dengan panas 1050 derajat celcius. Karena mengalami penempaan yang luar biasa dalam dapur peleburan, ia menjadi tak terhancurkan.

Kehidupan manusia juga mengalami pembentukan seperti berlian. Melewati suatu masa dimana things happen all seems so wrong. Seringkali kita tidak menyadari bahwa saat itu kita sedang masuk dalam dapur peleburan.
Permata yang berharga tidak terbentuk secara instant. Begitu pula kehidupan. Apabila kita melihat kebelakang hal-hal yang telah terjadi, kita mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang sedang dibukakan oleh Sang Pencipta. Pada saat kita mengalaminya mungkin kita tidak habis pikir kenapa ini terjadi dan mungkin bertanya-tanya kenapa hal ini terjadi. Stop asking and be quite.
Hal yang tersulit adalah tetap membiarkan pekerjaan tanganNya dalam kehidupan kita tidak terinterupsi oleh pikiran-pikiran logis yang bermunculan.

Dalam imajinasi saya teringat dengan Michaelangelo seorang seniman membuat patung. Ia mengambil bongkahan tanah liat, dihancurkannya tanah liat itu, dibentuk menjadi satu bagian yang dia inginkan. Setelah itu ia mulai memahat bagian-bagian kecil menjadi kaki, tubuh, tangan dan wajah. Setelah terlihat bentuknya, ia masih memberikan sentuhan akhir agar karyanya sempurna dan tampak hidup. Karya besarnya, patung David, sampai dengan saat ini masih dapat dinikmati di Balai Budaya Italia.

Nah, seperti itu juga Sang Pencipta berkarya dalam kehidupan kita sama seperti berlian, seperti Michaelangelo membuat masterpiece David. Untuk menjadi berlian dan patung mahakarya melewati proses, tidak langsung taraaa, jreng jreng simsalabim jadi. Bagaimana kita bertahan dalam proses adalah tetap menyerahkan segala sesuatu kembali padaNya, mengizinkan Ia bekerja membentuk kita, menjadikan kita permataNya yang berharga.

Do what we can do, surrender and let God do the rest.
Caeli enarrant gloriam Dei - Let the heavens declare the glory of God.


Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network

Saturday, March 19, 2011

It Takes Two to Tango

Seorang teman ngetag notes ke saya siang tadi. Satu hal yang menarik dari tulisan tersebut adalah cerita tentang belajar dansa.

Ada berbagai macam jenis dansa yang saya ketahui: waltz, cha cha, tango, jive, twist, dan foxtrot. Saya pernah diajarkan beberapa gerakan dasar waltz, jive dan cha cha dari orang tua saya. Seru dan menarik, karena untuk setiap jenis memiliki cara tersendiri untuk melangkah. Yang penting bagi saya, dengarkan irama musiknya, melangkah dan bergoyang.

Dalam tulisan tersebut dikisahkan sepasang suami istri yang ingin belajar berdansa dan mendatangi seorang guru untuk berlatih. Pertanyaan pertama yang diajuka oleh guru tersebut adalah: siapa yang akan memimpin?

Ya, untuk menarikan tarian ini, hanya ada 1 orang yang memimpin sementara yang lainnya menjadi pengikut.
Tentu saja sang pria menjadi pemimpin dan wanita menjadi pengikut. Sang wanita harus membiarkan sang pria membawa dia kemanapun langkahnya pergi di lantai dansa. Bayangkan kalau ada dua orang yang mengatur, jatuh atau terinjak bisa terjadi.

Melanjutkan kisah yang saya baca tadi, sang istri pada awalnya kesulitan untuk menerima bahwa ia harus mengikuti kemana langkah suaminya, akan tetapi ia harus tetap mengakui bahwa sang suami adalah pemimpinnya, dan membiarkan ia memimpin.

Realitas hidup mengizinkan saya semakin menyadari bahwa saya tidak dapat berjalan sendiri mengarungi kehidupan. Saya memerlukan orang lain di sekeliling saya. Tetapi yang paling penting adalah saya harus melibatkan Sang Pencipta dalam kehidupan saya. Tidak semudah membalikan telapak tangan untuk bisa membiarkanNya memimpin. Banyak pertanyaan dalam hati, bahkan menjadi misteri. Supaya tidak tersandung atau terjatuh, ya itu tadi, saya harus membiarkan Ia memimpin saya, membawa saya mengalir dan melangkah, tanpa protes, ya sekali lagi, tanpa protes.
Sama seperti berdansa.
Melangkah mengikuti irama membiarkan Ia membawa saya di arena dansa kehidupan.

PS: thanks to Mas Arie Saptadji buat tagnya : "Your Spiritual Growth Plan"
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network

Wednesday, March 16, 2011

Serabi Gaul Galaxy

Sabtu weekend yang lalu, setelah melewatkan soft opening dari Serabi Gaul Galaxy pada awal bulan, akhirnya saya kesampaian juga mampir kesana.

Serabi Gaul berlokasi sebelah marketing office Grand Galaxy City. Terdiri dari dua lantai, lantai satu dengan gaya sofa-sofa besar di temani dengan kursi-kursi berbentuk kubus dan lantai dua bergaya lesehan dengan bantal-bantal lucu dan empuk. Dominasi orange dan kuning sangat kuat di tempat ini. Oh ya, di lantai dua juga tersedia panggung mini yang bisa digunakan untuk bermain game wii atau akustik.

Sesuai dengan namanya, tentu saja menu utama adalah serabi, dengan tampilan yang telah dimodifikasi. Terdiri dari Love Original dan topping. Serabi original  bercitarasa kinca dan durian. Sementara topping salah satunya tuna mayo.

Selain itu, Serabi Gaul juga menyajikan makanan seperti spageti, pan cake dan snack seperti kentang goreng mayo, tom yam, nugget, sosis goreng serta tahu fantasi. So, don’t worry buat yang pingin makan agak berat masih bisa memesan makanan lain.
Sebagai penutup kita dapat memesan minuman seperti Avocado Float dan Blackforrest.
Semua menu ini diracik sendiri oleh empunya tempat, Cicilia Abigail.

Serabi Gaul bisa dijadikan salah satu alternatif tempat berkumpul di daerah Galaxy dan sekitarnya. Cozy dan feel hommy. Menghabiskan weekend dengan teman-teman sambil makan serabi? Kenapa tidak?
Berminat mampir, buka dari hari Senin – Minggu pk 10:00 – 21:00

Dompet Keluar:

Serabi original kinca : Rp 4500
Serabi original durian : Rp 5500
Avocado Float : Rp 17.000
Blackforrest : Rp 14.000
Kentang goreng : Rp 10.000

Thursday, March 3, 2011

Being Honest

This is a simple story, but I learn something from it. Begini ceritanya.

Kemarin malam, sepulang saya dan seorang teman dari wisata kuliner di sebuah Plaza di Jakarta Pusat, kami naik taksi. Kami memilih lewat jalan tol supaya tiba lebih cepat di rumah, karena hari sudah beranjak malam. Perjalanan kira-kira 30 menit, dan kami terlibat pembicaraan yang cukup asyik.

Sampai tidak terasa hampir keluar dari gerbang tol. Saya mengecek dompet, oh ternyata tidak tersedia uang kecil. Saya bertanya pada rekan apakah dia memiliki uang kecil. Dan ternyata ada Rp2000.
Saya memberikan uang tersebut pada pak supir. Melewati gerbang ini dikenakan biaya Rp1000, gerbang tol termurah menurut saya di antara gerbang tol-gerbang tol lainnya. Penjaga tol memberikan kembalian Rp1000 kepada pak supir. Saya menunggu pak supir mengembalikan uang tersebut. Akan tetapi, sampai kami tiba di rumah masing-masing, pak supir tidak bergeming untuk mengembalikan uang tersebut.

Sebenarnya bukan masalah nominal yang saya lihat, melainkan ada suatu nilai yaitu integritas seseorang dan kejujurannya. Meskipun nilai itu mungkin kecil, tetapi tetap ada nilainya. Jika berhitung secara cepat, dan berpikir untung, taruhlah 10x pak supir melakukan hal tersebut, maka ia telah memperoleh tambahan Rp10.000 dari setiap kembalian yang tidak ia kembalikan.

Kali ini reaksi saya yang bermain. Sebelum tiba di rumah, saya berhenti di toko buah, membeli pisang dan memperoleh kembalian dalam bentuk nominal yang lebih kecil. Apa yang saya lakukan? Ketika turun, ya saya membayar pak supir dengan uang pas sesuai argo yang tertera.

Masih sambil berdiri dan memasuki rumah, saya menceritakan kisah ini kepada adik. Tiba-tiba dia berujar, kenapa engkau bereaksi? Mengapa engkau menghukum pak supir secara tidak langsung dengan memberikan uang pas, padahal engkau bisa memberi dia lebih?

Saya tiba-tiba terdiam. Dilain pihak saya tidak setuju dengan tindakan pak supir, akan tetapi saya bereaksi tanpa dasar.
Seharusnya saya bisa menjelaskan dan menyatakan keberatan saya kepada pak supir, bukan dengan tindakan seperti itu. Dengan tindakan itu saya justru tidak mendidik pak supir untuk bersikap jujur.

Kejujuran dan integritas bisa menjadi hal yang langka dalam kehidupan. Dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana seperti memberi kembalian tadi, bisa berlanjut menjadi besar. Akan tetapi melalui kisah ini saya juga belajar bagaimana untuk tidak bereaksi dengan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak merugikan. Berpikir secara sederhana, memberi tanpa pamrih, dan mengutarakan kebenaran tanpa menghakimi orang lain.


Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network

Saturday, February 12, 2011

Your Body Your Life

Ada banyak organ yang diciptakan Tuhan untuk manusia. Setiap organ berfungsi sebagaimana mestinya. Adakah organ dalam tubuh kita yang tidak berfungsi? Meskipun kecil tetap diperlukan. Bukankah Tuhan menciptakan manusia dengan sempurna?

Lidah, organ yang tidak bertulang tetapi sangat lentur. Ia tak hanya berfungsi untuk mengecap makanan, manis, asam atau asin, tetapi juga digunakan untuk berbicara. Melalui lidah juga orang dapat mengubah dunia. Teringat dengan cerita Nelson Mandela, Soekarno, JFK, Hitler adalah beberapa diantaranya.

Lidah seonggok daging tak bertulang yang memberikan pengaruh untuk orang lain. Ia bisa menjadi motivator yang baik atau provokator yang baik. Apakah tutur kata yang keluar baik, berkenan dan membangun atau sebaliknya, tergantung dari si pemilik lidah.

Dari lidah cerminan hati seseorang terefleksi. Ia dapat menjadi pohon kehidupan atau justru penghancur kehidupan. Tidak jarang pemicu pembunuhan yang marak terjadi di kota-kota besar hanya karena urusan lidah, tersinggung dengan kata-kata.
Berhati-hati dengan kata-kata, berpikir sebelum menyatakan.
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network

Tuesday, February 1, 2011

Expect The Unexpected

Pagi hari ketika tiba di kantor, seorang teman bertanya, sudah cek rekening? Dapat berapa? Saya belom cek, tadi jam 6, belum ada. Nanti saya cek lagi. Begitu jawab saya. Hari ini ada vitamin tambahan dari perusahaan atas hasil yang dicapai selama tahun lalu.

Teman saya bertanya kembali, coba cek, koq yang saya dapat berbeda,yach? Hmmm, penasaran, saya cek. Hasilnya, sama dengan teman saya yang bertanya itu. Setelah kasak-kusuk ke beberapa teman, ternyata ada perbedaan hasil perolehan.

Sedikit mengerutkan kening, saya berpikir, ach bukankah hasil yang diperoleh sama? Kenapa bisa berbeda,yach? Seorang teman yang lain menjelaskan detail perhitungan bla bla bla bla. Oooo, saya mengerti, ternyata ada point yang tidak saya hitung. Ya sudah, tidak berusaha memperpanjang, saya tetap bersyukur dan bersukacita atas anugrahNya, walaupun hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang saya harapkan.

Ketika saya dihadapkan pada kondisi yang tidak kita harapkan, seringkali saya menjadi reaktif, tidak berpikir dengan jernih dan bertindak karena kondisi. Hari ini saya belajar, kalau tidak semua keinginan saya dapat berjalan sesuai dengan harapan. Sesuatu yang tidak kita harapkan bisa saja terjadi.
Sikap hati yang tenang dan jernih diperlukan agar dapat melihat segala sesuatu dengan baik. Think out of the box, supaya saya bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan tetap memiliki sikap yang positif dalam menghadapi situasi.

Saya percaya dan menyerahkan segala sesuatunya pada The Invisible Hand, dan membiarkan Ia yang mengatur dan bertindak. Pada akhirnya semua akan baik-baik saja.
Bahkan dari situ mungkin saja ada sesuatu yang baru yang tidak kita harapkan terjadi. Everything possible, nothing impossible.


Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network